Ratusan PPPK Dikbud Malut Belum Terima Gaji Dua Bulan, Kinerja Bendahara Dipertanyakan

- Jurnalis

Kamis, 9 Oktober 2025 - 20:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi belum terima gaji.

Ilustrasi belum terima gaji.

SOFIFI – Ratusan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara mengeluhkan belum cairnya gaji selama dua bulan terakhir.

Hingga pekan kedua Oktober 2025, tercatat sebanyak 570 orang PPPK yang terdiri dari guru dan tenaga teknis belum menerima hak mereka, padahal seluruh kewajiban  telah dijalankan seperti biasa.

Yang lebih memprihatinkan, sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain di lingkup Pemerintah Provinsi Maluku Utara diketahui sudah membayarkan gaji pegawai mereka, hanya saja Dikbud Malut masih tertahan. Kondisi ini menimbulkan kekecewaan dan keresahan di kalangan  PPPK, terutama mereka yang bertugas jauh di pelosok daerah.

Salah satu PPPK yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan rasa kecewa terhadap lambannya kinerja bendahara gaji Dikbud Malut. Ia mengaku sudah berulang kali menanyakan kapan gaji akan dicairkan, namun selalu mendapat jawaban yang sama.

“Kami sudah coba tanyakan kepada Pak Rendaly selaku bendahara gaji, tapi alasannya nama-nama belum diinput. Kami heran, kenapa sampai sekarang belum juga diselesaikan. OPD lain bisa, kenapa Dikbud tidak?” ujarnya dengan nada kesal.

Baca Juga :  Viral! Video Pemuda Berbusana Muslimah di Gebyar Ramadhan Kepulauan Sula Tuai Kontroversi

PPPK tersebut menuturkan, banyak rekan sesama PPPK kini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka terpaksa berutang ke warung, menunda pembayaran kos, hingga menanggung beban transportasi ke sekolah dengan biaya pribadi tanpa kepastian kapan gaji akan cair.

“Kami ini guru setiap hari tetap masuk kelas, tetap mengajar, tetap mengabdi. Tapi bagaimana kami bisa tenang bekerja kalau hak kami saja tidak diberikan tepat waktu? Kami bukan minta lebih, kami hanya menuntut yang memang menjadi hak kami,” tambahnya.

Keterlambatan pembayaran gaji ini dinilai sebagai bentuk ketidakseriusan pihak Dikbud Malut dalam mengelola administrasi keuangan. Sejumlah pihak internal bahkan menilai, bendahara gaji terlalu lamban dalam bekerja.

Situasi ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan PPPK. Sebab, informasi yang beredar menyebutkan bahwa dana untuk pembayaran gaji sebenarnya sudah tersedia di kas daerah, hanya saja proses penginputan dan pengajuan dari Dikbud belum tuntas.

“Kalau alasannya teknis seperti belum diinput, itu artinya masalahnya ada di internal Dikbud sendiri. Kami hanya berharap pimpinan dinas segera turun tangan dan jangan biarkan hal seperti ini berlarut-larut,” ungkap sumber lain.

Baca Juga :  Proyek Drainase di Guraping Mangkrak, Warga Resah dan Tuntut Kepastian

Guru-guru di daerah pelosok, seperti Halmahera Selatan, Halmahera Timur, hingga Kepulauan Sula, menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka harus mengabdi di wilayah yang masih sulit, sementara biaya transportasi dan kebutuhan hidup semakin meningkat.

“Jangan tunggu kami mengeluh baru ada reaksi. Kami ini sudah dua bulan tanpa gaji. Tolonglah, kami juga punya keluarga yang harus dinafkahi,” keluh seorang guru PPPK di Halmahera Selatan melalui pesan singkat kepada media ini.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara belum memberikan keterangan resmi. Bendahara gaji Dikbud, Rendaly, juga belum dapat dikonfirmasi terkait penyebab pasti keterlambatan pembayaran gaji PPPK tersebut.

Sementara itu, para guru berharap  Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda maupun Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Abubakar Abdullah, dapat segera turun tangan menyelesaikan persoalan ini.

Mereka menilai, keterlambatan dua bulan merupakan bentuk kelalaian yang tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut hak hidup ratusan orang.

Berita Terkait

FTJ Dodinga dan Wallace: Sejarah Halmahera yang Mengubah Peta Ilmu Pengetahuan Dunia
GMNI Malut Minta Kritik atas Pelayanan RSUD Jailolo Disikapi dengan Evaluasi, Bukan Kriminalisasi
Dana dari Pusat Belum Turun, Pemkot Tidore Kesulitan Bayar Gaji 13 ASN
Nelayan Asal Kampung Makian Hilang Saat Memanah Ikan, Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian
Diduga Disuruh Kades, Mobil Dinas Desa Bere-Bere Kecil Dijual ke Besi Tua Seharga Rp500 Ribu
Ekonomi Tumbuh 34 Persen, Gubernur Sherly Ungkap Ironi Maluku Utara: Warga Masih Menyeberang Sungai Tanpa Jembatan
Pangkogabwilhan III Tinjau Lokasi Banjir dan Longsor di Halbar, Serahkan Bantuan untuk Warga Terdampak
Wagub Malut Tinjau Lokasi Banjir di Halut, Pastikan Penanganan dan Kebutuhan Warga Terpenuhi
Berita ini 342 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 17:51 WIB

FTJ Dodinga dan Wallace: Sejarah Halmahera yang Mengubah Peta Ilmu Pengetahuan Dunia

Sabtu, 13 Juni 2026 - 22:07 WIB

GMNI Malut Minta Kritik atas Pelayanan RSUD Jailolo Disikapi dengan Evaluasi, Bukan Kriminalisasi

Senin, 25 Mei 2026 - 09:52 WIB

Dana dari Pusat Belum Turun, Pemkot Tidore Kesulitan Bayar Gaji 13 ASN

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:02 WIB

Nelayan Asal Kampung Makian Hilang Saat Memanah Ikan, Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian

Minggu, 3 Mei 2026 - 20:08 WIB

Diduga Disuruh Kades, Mobil Dinas Desa Bere-Bere Kecil Dijual ke Besi Tua Seharga Rp500 Ribu

Rabu, 22 April 2026 - 15:50 WIB

Ekonomi Tumbuh 34 Persen, Gubernur Sherly Ungkap Ironi Maluku Utara: Warga Masih Menyeberang Sungai Tanpa Jembatan

Senin, 19 Januari 2026 - 06:54 WIB

Pangkogabwilhan III Tinjau Lokasi Banjir dan Longsor di Halbar, Serahkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Sabtu, 17 Januari 2026 - 04:50 WIB

Wagub Malut Tinjau Lokasi Banjir di Halut, Pastikan Penanganan dan Kebutuhan Warga Terpenuhi

Berita Terbaru