Motor Dinas Jadi Rebutan, Perangkat dan Bendahara Desa Mira Bersitegang

- Jurnalis

Jumat, 13 Juni 2025 - 14:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MARASAI.iD – Motor dinas milik mantan Kepala Desa Mira, Ismit Nengo, kini menjadi sumber konflik di internal Pemerintah Desa Mira. Motor operasional tersebut diperebutkan oleh bendahara desa, Khadija Adam, dan sejumlah perangkat desa. Situasi memanas setelah motor tersebut ditarik oleh Penjabat (Pj) Kepala Desa Mira, Sibli Lotar, usai pergantian kepemimpinan.

Bendahara Desa Mira, Khadija Adam, mengaku saat ini motor tersebut sedang dalam proses pemeriksaan dan menjadi bagian dari temuan administrasi desa. Menurutnya, penggunaan motor oleh dirinya sah-sah saja karena dibutuhkan untuk mobilitas menyelesaikan urusan pemerintahan.

“Motor itu sementara diperiksa. Saya diminta melengkapi surat-surat dan bukti belanja. Sekalian saya pakai untuk keperluan pengurusan ke DPMD, Inspektorat, dan keuangan desa. Pj kepala desa sudah punya motor dan mobil, jadi motor ini saya gunakan agar tidak menganggur,” jelas Khadija kepada wartawan.

Namun, sejumlah perangkat desa yang enggan disebutkan namanya menolak alasan tersebut. Mereka menilai bendahara tidak layak menggunakan motor dinas karena jarang masuk kantor dan dianggap sebagai bagian dari kelompok politik yang berseberangan.

Baca Juga :  Jalan Utama di Sanana Utara Putus Akibat Banjir

“Bendahara harus kembalikan motor itu. Dia jarang masuk kantor dan bukan perangkat aktif. Motor itu seharusnya digunakan untuk urusan pelayanan di desa, bukan pribadi. Apalagi dia juga lawan politik, sebaiknya diganti,” ungkap salah satu perangkat desa.

Menanggapi polemik ini, Pj Kepala Desa Mira, Sibli Lotar, menegaskan bahwa motor dinas tersebut akan digunakan sementara oleh dirinya untuk operasional pemerintahan desa. Ia juga menegaskan, keputusan tersebut diambil demi menghindari konflik yang semakin melebar.

“Daripada terus diperebutkan dan jadi sumber masalah, lebih baik saya tahan dan gunakan untuk kegiatan desa. Bendahara sudah menyampaikan bahwa motor tersebut sementara ditahan karena ada pemeriksaan, dan saya setuju,” kata Sibli.

Terkait tuntutan agar bendahara desa diganti, Sibli mengatakan bahwa Khadija masih memiliki tanggung jawab besar yang harus diselesaikan, termasuk pembayaran hak-hak perangkat desa untuk bulan Desember 2024.

Baca Juga :  Gubernur Malut Fokus Tingkatkan Kapasitas ASN, Sekprov Gelar Rapat Penyusunan Peta Pelatihan Digital

“Saya belum bisa ganti bendahara karena masih ada tanggung jawab, termasuk gaji perangkat yang belum dibayar. Kalau saya ganti, siapa yang selesaikan? Bendahara saat ini masih jadi jaminan agar hak perangkat bisa dibayarkan. Saya hadir untuk membenahi administrasi, bukan sekadar bagi-bagi jabatan,” tegasnya.

Sibli juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba membawa nama “tim” politik dalam urusan administrasi desa.

“Saya selalu tegaskan bahwa urusan tim tidak boleh ikut campur dalam administrasi. Kalau semua kegiatan harus dikontrol tim, lalu apa fungsi saya sebagai kepala desa? Jangan karena keinginan pribadi tidak saya penuhi, lalu ancam lapor saya ke bupati,” tandasnya.

Perseteruan internal ini mencerminkan belum stabilnya sistem pemerintahan di tingkat desa yang sering kali tercampur urusan pribadi dan politik. Pj Kepala Desa berharap semua pihak dapat menahan diri dan mendahulukan kepentingan pelayanan masyarakat.

Berita Terkait

Kasus Korupsi Proyek “Welcome to Halbar” Seret Nama Mantan Calon Wali Kota Ternate hingga Mantan Suami Artis
Tim Patroli Gabungan Temukan Kayu Ilegal di Halmahera Timur
Gaji 2 Bulan Belum Dibayar, 570 Pegawai PPPK Dikbud Malut Ancam Mogok Kerja
Ratusan PPPK Dikbud Malut Belum Terima Gaji Dua Bulan, Kinerja Bendahara Dipertanyakan
Proyek Drainase di Guraping Mangkrak, Warga Resah dan Tuntut Kepastian
Pemkab Sula Bangun Jembatan Darurat di Wai Bega, Antisipasi Lumpuhnya Aktivitas Warga
Alex Paka Desak Pemerintah Bangun Jembatan Darurat di Desa Bega
BPJN Malut Turun Tangan Tangani Jembatan Ambruk di Desa Wai Bega
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Oktober 2025 - 18:59 WIB

Kasus Korupsi Proyek “Welcome to Halbar” Seret Nama Mantan Calon Wali Kota Ternate hingga Mantan Suami Artis

Selasa, 21 Oktober 2025 - 13:53 WIB

Tim Patroli Gabungan Temukan Kayu Ilegal di Halmahera Timur

Selasa, 14 Oktober 2025 - 12:40 WIB

Gaji 2 Bulan Belum Dibayar, 570 Pegawai PPPK Dikbud Malut Ancam Mogok Kerja

Kamis, 9 Oktober 2025 - 20:23 WIB

Ratusan PPPK Dikbud Malut Belum Terima Gaji Dua Bulan, Kinerja Bendahara Dipertanyakan

Kamis, 9 Oktober 2025 - 13:38 WIB

Proyek Drainase di Guraping Mangkrak, Warga Resah dan Tuntut Kepastian

Rabu, 8 Oktober 2025 - 07:56 WIB

Pemkab Sula Bangun Jembatan Darurat di Wai Bega, Antisipasi Lumpuhnya Aktivitas Warga

Selasa, 7 Oktober 2025 - 21:10 WIB

Alex Paka Desak Pemerintah Bangun Jembatan Darurat di Desa Bega

Selasa, 7 Oktober 2025 - 19:54 WIB

BPJN Malut Turun Tangan Tangani Jembatan Ambruk di Desa Wai Bega

Berita Terbaru

Peserta seleksi KIP Malut mengikuti tahapan Psikotest

Good News

Seleksi KIP Malut Masuki Tahapan Psikotes dan Dinamika Kelompok

Kamis, 11 Des 2025 - 22:24 WIB