MARASAI.iD – Pabrik es yang terletak di kawasan Desa Daruba Pante, Kecamatan Morotai Selatan, kini tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Pabrik yang awalnya dibangun untuk melayani kebutuhan es para nelayan dan pedagang ikan lokal, justru kini dikeluhkan karena diduga dikuasai oleh pengusaha dari luar daerah.
Informasi yang diterima redaksi menyebutkan, pengelola pabrik es saat ini tak lagi menjual es secara umum. Sebaliknya, pabrik tersebut diduga bekerja sama dengan pihak luar, menjadikan area pabrik sebagai tempat penampungan ikan, sehingga ketersediaan es untuk masyarakat selalu kosong.
“Setiap kali beli es, alasannya kosong. Padahal mereka sedang produksi, bahkan melakukan pengepakan ikan di lokasi pabrik. Ini pabrik pemerintah, bukan milik pribadi,” keluh salah satu pembeli yang enggan disebut namanya.
Ironisnya, harga es yang sebelumnya Rp750 per kilogram kini melonjak menjadi Rp1.000 per kilogram. Tak hanya itu, sistem penjualan yang dulu menggunakan timbangan kini diganti dengan sistem box, yang dinilai merugikan pembeli.
Sejumlah nelayan mengaku kecewa karena pabrik es yang dulu sangat membantu aktivitas mereka, kini justru menjadi lahan bisnis eksklusif yang tak lagi berpihak kepada masyarakat.
Kondisi ini menimbulkan sorotan terhadap kinerja Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pulau Morotai. Banyak yang menilai DKP lemah dalam pengawasan, bahkan diduga tidak mengetahui kondisi terbaru pabrik es yang merupakan aset hibah dari Pemerintah Jepang tersebut.
Karena itu, masyarakat mendesak Kepala DKP Pulau Morotai untuk segera mengambil langkah tegas.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah menarik kembali pengelolaan aset dan menyerahkannya kepada koperasi aktif di wilayah Morotai Selatan, atau dikelola langsung oleh DKP agar pelayanan menjadi lebih merata dan adil.






