SOFIFI – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku Utara melalui Bidang Sumber Daya Air terus mendorong transformasi digital dalam tata kelola infrastruktur sumber daya air. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui inovasi PICA–PIICA (Program Indeks Capaian Pemeliharaan Pantai–Sungai Cerdas dan Akuntabel).
Inovasi ini dirancang untuk memperkuat pengelolaan data, monitoring, pelaporan hingga evaluasi kondisi Bangunan Pengaman Pantai dan Sungai (BPPS) secara lebih terintegrasi, terukur dan akuntabel.
Pengembangan PICA–PIICA berangkat dari sejumlah persoalan dalam pengelolaan pemeliharaan infrastruktur pantai dan sungai. Di antaranya belum adanya sistem pengukuran capaian pemeliharaan yang terstandar, data kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya terintegrasi, serta proses monitoring dan evaluasi yang masih membutuhkan konsolidasi.
Padahal, ketersediaan data yang akurat, lengkap dan mudah ditelusuri menjadi faktor penting dalam menentukan kebutuhan penanganan, menyusun prioritas pemeliharaan hingga mendukung pengambilan keputusan.
Reformer PICA–PIICA, Syukri M. Nur, mengatakan inovasi tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mendigitalisasi proses kerja, tetapi memastikan data lapangan dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.
“PICA–PIICA kami hadirkan sebagai upaya untuk mengubah pola pengelolaan pemeliharaan yang sebelumnya masih menghadapi keterbatasan dalam integrasi data menjadi proses yang lebih terstruktur, terukur dan berbasis informasi lapangan. Intinya bukan hanya digitalisasi, tetapi bagaimana data tersebut dapat digunakan untuk mendukung monitoring dan pengambilan keputusan yang lebih tepat,” kata Syukri.
Menurutnya, proses penciptaan PICA–PIICA diawali dengan identifikasi berbagai persoalan dalam pengelolaan pemeliharaan pantai dan sungai. Persoalan tersebut kemudian dianalisis untuk menemukan akar masalah sekaligus merumuskan kebutuhan perubahan.
Dari proses tersebut, lahir gagasan untuk membangun sistem pengelolaan pemeliharaan yang mampu mengintegrasikan data kondisi infrastruktur, dokumentasi lapangan, lokasi, hasil monitoring, temuan ketidaksesuaian serta tindak lanjut penanganan.
“Kami ingin data lapangan tidak berhenti sebagai dokumentasi. Data tersebut harus dapat diolah menjadi informasi yang memiliki nilai untuk menentukan kondisi, melihat kebutuhan penanganan, menentukan prioritas dan menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan pemeliharaan,” ujarnya.
PICA–PIICA mendukung proses pengumpulan data kondisi infrastruktur di lapangan yang dilengkapi dokumentasi visual, informasi kondisi, tingkat kerusakan serta geolokasi.
Inovasi ini juga membedakan pencatatan PICA sebagai temuan ketidaksesuaian dan PIICA sebagai tindak lanjut penanganan. Dengan mekanisme tersebut, setiap persoalan yang ditemukan di lapangan dapat ditelusuri hingga proses penanganannya.
Data yang terkumpul kemudian dapat digunakan dalam proses monitoring dan evaluasi sekaligus menjadi bahan penyusunan Indeks Capaian Pemeliharaan Pantai dan Sungai (ICPPS).
Syukri mengatakan, sistem tersebut diharapkan dapat menjadi alat bantu bersama bagi jajaran teknis maupun pimpinan dalam mengelola infrastruktur sumber daya air.
“PICA–PIICA kami harapkan dapat menjadi alat bantu bersama. ASN teknis dan operator memiliki standar kerja yang lebih jelas, sementara pimpinan dan stakeholder memperoleh informasi yang lebih mudah digunakan dalam proses koordinasi, evaluasi dan perencanaan,” jelasnya.
Dari sisi organisasi, inovasi ini memberikan manfaat bagi Bidang Sumber Daya Air dalam mendukung inventarisasi, monitoring dan pelaporan kondisi infrastruktur secara lebih sistematis.
Bagi ASN teknis dan operator, PICA–PIICA mendorong peningkatan kompetensi dalam proses pengumpulan, pengelolaan, validasi dan pelaporan data berbasis digital.
Sementara bagi pimpinan dan stakeholder, informasi yang lebih terstruktur diharapkan dapat memperkuat koordinasi, evaluasi, perencanaan program serta penentuan prioritas pemeliharaan infrastruktur pantai dan sungai.
Syukri menegaskan bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari peluncurannya, tetapi dari sejauh mana sistem tersebut benar-benar digunakan dan memberikan dampak terhadap proses kerja.
“Ukuran keberhasilan inovasi bukan hanya pada saat inovasi diluncurkan, tetapi bagaimana inovasi tersebut terus digunakan, diperbaiki dan memberikan manfaat dalam proses kerja. Karena itu, PICA–PIICA akan terus kami dorong agar menjadi bagian dari tata kelola pemeliharaan pantai dan sungai di Bidang Sumber Daya Air,” tegasnya.
Pengembangan PICA–PIICA menjadi bagian dari upaya Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Provinsi Maluku Utara dalam mendorong transformasi digital sekaligus memperbaiki tata kelola pemerintahan.
Melalui integrasi data, dokumentasi, geolokasi, monitoring, PICA, PIICA dan dashboard, inovasi tersebut diarahkan untuk menciptakan sistem pemeliharaan infrastruktur yang lebih cerdas, terukur, transparan dan akuntabel.
Ke depan, PICA–PIICA akan terus dikembangkan melalui pemutakhiran data, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan standar operasional prosedur (SOP), uji coba pada lokasi prioritas serta pengembangan ICPPS berbasis data aplikasi.






