SOFIFI – Panggung itu kecil. Hanya berukuran beberapa meter, di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara. Tapi dari panggung inilah, empat suara lahir membawa nama Maluku Utara menuju jantung republik: Istana Merdeka.
Empat nama yang tak lagi hanya milik keluarga mereka, tapi kini jadi bagian dari cerita Indonesia: Grefanni Jein D. Jaul (sopran), Aprilia A.G. Manelo (alto),
Rifaldi Badjo (tenor), danErwin Kaumur (bas).
Mereka tak sekadar terpilih — mereka dipercaya. Untuk menjadi bagian dari Gita Bahana Nusantara (GBN) 2025, paduan suara nasional yang akan mengisi perayaan Hari Ulang Tahun RI ke-80, pada 17 Agustus mendatang.
Audisi tingkat provinsi ditutup Selasa sore (24/6) di Sofifi. Empat orang, dari 25 peserta muda, akhirnya diumumkan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Malut, Abubakar Abdullah, naik ke podium dan menyampaikan hal penting: nada dan harmoni.
“Seleksi ini tidak ada titipan, tak ada dorongan di belakang layar. Anak-anak ini berdiri karena kualitas, bukan karena koneksi,” katanya, tenang tapi tegas.
Tapi lebih dari itu, audisi ini bukan tentang siapa yang paling keras bernyanyi. Ini tentang siapa yang mampu menjaga nada, menyatu dalam harmoni, dan tetap tegak di bawah tekanan.
“Semua peserta yang hadir disini patut diapresiasi, semuanya hebat. Dalam hal ini saya ingatkan tentang menjaga amanah dan harmoni. Tidak hanya pada nada tapi juga harmoni dalam kehidupan sehari-hari ditengah keberagaman,” ucapnya.
Gita Bahana Nusantara bukan ajang baru. Sudah dua dekade lebih, program ini melatih ratusan anak muda dari seluruh penjuru negeri. Tapi setiap tahun, selalu ada darah baru, cerita baru, semangat baru.
Sukanty Sidharta, juri dari Kementerian Kebudayaan RI yang ikut menilai seleksi di Malut, menyebutkan bahwa GBN bukan sekadar program vokal.
“Kami mencari yang bisa bernyanyi, tapi juga yang bisa belajar hidup bersama, menghormati perbedaan, dan mencintai tanah air.”
Di Jakarta nanti, mereka akan menjalani karantina penuh dari 1 hingga 19 Agustus. Pelatihan intensif, disiplin ala militer, dan latihan vokal hingga sembilan jam sehari bukan hal yang mudah. Lagu-lagu datang nyaris setiap hari. Tidak ada ruang untuk lengah.
Keempat peserta Maluku Utara akan memulai babak baru — dari pelatihan daring 21–25 Juli, konser publik di Kota Tua Jakarta pada 9 Agustus, hingga puncaknya di hadapan Presiden.
Pemerintah Provinsi Malut melalui Dikbud akan menanggung seluruh biaya keberangkatan mereka. Sementara kebutuhan selama karantina — makan, penginapan, bahkan uang saku — telah disiapkan oleh pemerintah pusat.
Maluku Utara bukan nama baru dalam Gita Bahana Nusantara. Pernah ada yang tampil solo di Sidang MPR. “Perwakilan Maluku Utara selama ini bukan cukup tapi sangat memuaskan,” puji Sukanty.






