Sarahsehan Kebudayaan, Sahli Gubernur: Ikhtiar Melestarikan Budaya

- Jurnalis

Rabu, 20 September 2023 - 01:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sahli Gubernur Bidang EKP, Ir Muliadi Wowor.

Sahli Gubernur Bidang EKP, Ir Muliadi Wowor.

TERNATE–  Mewakili Gubernur Maluku Utara, Staf ahli (Sahli) Bidang Keuangan, Ekonomi dan Pembangunan (Keuekbang), Ir. Mulyadi Wowor, membuka secara resmi acara Sarasehan Kebudayaan, Pekan Budaya Kota Rempah Maluku Utara, Selasa malam (19/9) di Muara Hotel Ternate.

Gubernur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Staf ahli Bidang Keuekbang, mengatakan bahwa ketika kita berbicara tentang kebudayaan, kita tidak hanya membahas tentang kesenian, tarian atau musik tradisional. Kebudayaan mencakup segala aspek kehidupan kita, mulai dari adat istiadat, bahasa, makanan, pakaian, hingga sistem nilai yang kita anut. Kebudayaan adalah identitas kita sebagai bangsa, dan melalui saresehan ini, kita dapat memperkuat dan mempertahankan warisan budaya kita.

Namun, dalam era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini, tantangan dalam mempertahankan kebudayaan kita semakin besar. Budaya kita seringkali terpinggirkan oleh arus global yang membawa pengaruh budaya dari luar. Anak-anak muda kita lebih tertarik dengan budaya populer dan teknologi modern, sementara kebudayaan lokal mungkin saja akan terabaikan jika tidak dilestarikan.

“Saresehan kebudayaan untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan Maluku Utara adalah inisiatif yang sangat baik dan sangat penting. Melalui sarasehan kebudayaan, masyarakat, pemangku kebijakan, budayawan, komunitas seniman dan tokoh-tokoh lokal dapat berkumpul untuk mendiskusikan langkah-langkah konkret dalam pelestarian dan pengembangan warisan budaya Malut,” jelasnya.

Menurutnya, saresehan kebudayaan adalah langkah awal yang bagus untuk memulai dialog yang lebih luas dan upaya konkret dalam melestarikan dan memajukan kebudayaan Maluku Utara. Ini harus didasarkan pada partisipasi aktif dan inklusif dari berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat lokal agar dapat mencapai hasil yang positif dalam pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya daerah ini.

Baca Juga :  Wakil Wali Kota Ahmad Laiman: Maulid Jadi Momentum Evaluasi Diri dan Pererat Silaturahmi

Dirinya berharap, dengan adanya sarasehan ini, kita akan memperkuat kesadaran akan pentingnya kebudayaan kita dan menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan menghargai warisan budaya kita di Malut.

Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Irini Dewi Yanti, SS M.Sp. dalam sambutan secara virtual menjelaskan bahwa, peran jalur rempah sebagai jalur budaya dalam semua dimensi menjadikan laut dan darat merupakan suatu kesatuan yang paling mendukung dalam arah kebijakan pembangunan berkelanjutan.

“Jalur rempah merupakan istilah yang dipandang tepat karena memberikan identitas Kenusantaraan Indonesia. Dapat dikatakan demikian karena pada kenyataan, Nusantara menempati wilayah dan lingkungan yang khas yaitu daerah tropis yang kaya akan keragaman hayatinya (flora dan fauna),” ungkapnya.

Lanjutnya, kekayaan hayati itulah yang merupakan sumber komoditi niaga di masa lalu, menarik minat para pedagang, termasuk tumbuhnya tanaman rempah yang asli nusantara atau endemik (Cengkeh, Pala, Kemiri dan Lada) yang tumbuh di Malut, Maluku dan Banda, serta menjadi tempat yang cocok untuk budidaya hayati dari luar seperti Lada. Kebudayaan rempah-rempah dapat membuka jalur perdagangan nusantara dan diikuti dengan pertukaran budaya.

Melalui perdagangan rempah, Cengkeh Ternate menjadi penting di nusantara bagian Timur di abad ke 15 sampai 18, diyakini jejak-jejak perdagangan masa lampau masih bisa di temui melalui situs-situs pertahanan seperti Benteng Orange, Masjid Sultan Ternate dan Benteng Kala Mata.

Terkait dengan hal itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Malut, Kuswanto, SS, M.Hum, dalam sambutannya mengatakan, Sarasehan budaya ini merupakan rangkaian dari pekan budaya Kota rempah yang dilaksanakan dari tanggal 19 – 23 September 2023 dengan lokus utama di Benteng Orange. Ini merupakan wujud upaya kami dalam rangka pelestarian cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan di Maluku Utara.

Baca Juga :  STAI Babussalam Sula Gelar Wisuda Sarjana S1 Angkatan XI, Kukuhkan 88 Alumni

“Kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka mendukung program jalur rempah sebagai program prioritas nasional,” katanya.

Dirinya menjelaskan, pekan budaya kota rempah dengan mengangkat tema ‘Irama Bumi Rempah’ yang memiliki makna bahwa irama dan rempah merupakan dua hal yang melekat pada keseharian masyarakat Malut, yang tentunya menjadi identitas masyarakat Malut.

“Dalam pekan budaya ini ada terdapat beberapa kegiatan yang akan ditampilkan selain Sarasehan ada juga festival budaya, Kololi Kie dan pemutaran film budaya,” ungkapnya.

Dirinya juga menyebut potensi budaya di Malut sangat besar. Catatan kami terdapat kurang lebih 600 (enam ratus) obyek diduga cagar budaya. Namun ada 2 (dua) cagar budaya peringkat nasional yang sudah ditetapkan, dan baru 5 (lima) cagar budaya ditetapkan Walikota dan ditetapkan peringkat provinsi oleh Gubernur Malut.

“Juga terdapat potensi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) di Malut, tak kalah banyaknya yang mungkin bisa masuk kategori Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Namun belum ada data yang valid berapa jumlahnya. Meski demikian di catatan kami, terdapat 35 (tiga puluh lima) WBTb yang sudah ditetapkan dan 22 (dua puluh dua) WBTb direkomendasikan untuk ditetapkan tahun 2023 ini,” ucapnya.

Hadir dalam acara itu, staf ahli Gubernur bidang Keuekbang, Ir. Mulyadi Wowor, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Malut, Kuswanto, SS. M.Hum, Sultan Jailolo, Pimpinan OPD Kota Ternate, Anggota DPRD yang membidangi Kebudayaan, Balai Pelestarian Budaya, perwakilan komunitas budayawan Malut, serta 3 narasumber dari Dirjen Kebudayaan dan dari Pemerintah daerah. (rls)

Berita Terkait

21 SMK di Malut Lakukan Program Ketahanan Pangan, Wagub Minta Hasil Panen Punya Pasar dan Bernilai Ekonomis
Jelang Ramadhan 1447 H, Pemkot Tidore Gelar Rakor: Pastikan Pangan Aman, Harga Stabil, Keamanan Diperketat
Tidore Utara Disiapkan Jadi DTW Baru, Disbudpar Kembangkan Wisata Bahari–Sejarah Rum dan Rum Balibunga, Butuh Rp41 Miliar
Cetak 80 Pengajar Utama, Balai Bahasa Malut Genjot Revitalisasi Bahasa Sawai di Halmahera Tengah
Pegawai Apresiasi Keterbukaan, Dikbud Malut Kick Off Program 2026 dengan Anggaran Rp783 Miliar
Kelola Rp783 Miliar, Dikbud Malut Tancap Gas Program 2026, Fokus Akses Sekolah dan Tekan Putus Sekolah
Balai Bahasa Maluku Utara Susun Modul Pembelajaran Bahasa Taliabu
Balai Bahasa Malut dan Pemkab Pulau Taliabu Perkuat Revitalisasi Bahasa Daerah
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:48 WIB

21 SMK di Malut Lakukan Program Ketahanan Pangan, Wagub Minta Hasil Panen Punya Pasar dan Bernilai Ekonomis

Jumat, 6 Februari 2026 - 02:18 WIB

Jelang Ramadhan 1447 H, Pemkot Tidore Gelar Rakor: Pastikan Pangan Aman, Harga Stabil, Keamanan Diperketat

Jumat, 6 Februari 2026 - 01:17 WIB

Cetak 80 Pengajar Utama, Balai Bahasa Malut Genjot Revitalisasi Bahasa Sawai di Halmahera Tengah

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:57 WIB

Pegawai Apresiasi Keterbukaan, Dikbud Malut Kick Off Program 2026 dengan Anggaran Rp783 Miliar

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:46 WIB

Kelola Rp783 Miliar, Dikbud Malut Tancap Gas Program 2026, Fokus Akses Sekolah dan Tekan Putus Sekolah

Jumat, 30 Januari 2026 - 18:47 WIB

Balai Bahasa Maluku Utara Susun Modul Pembelajaran Bahasa Taliabu

Jumat, 30 Januari 2026 - 10:15 WIB

Balai Bahasa Malut dan Pemkab Pulau Taliabu Perkuat Revitalisasi Bahasa Daerah

Rabu, 28 Januari 2026 - 06:04 WIB

Gelar DKT, Balai Bahasa Malut Susun Modul Pembelajaran Bahasa Sawai di Halteng

Berita Terbaru