Perbaikan Gini Ratio dan Penurunan Kemiskinan Maluku Utara: Realita atau Ilusi?

- Jurnalis

Selasa, 21 Januari 2025 - 19:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr. Muhtar Adam

Dr. Muhtar Adam

MARASAI.iD – Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara baru-baru ini merilis data yang tampak menggembirakan: Gini Ratio turun dari 0,41 menjadi 0,31, mencerminkan penurunan ketimpangan pendapatan. Selain itu, angka kemiskinan juga menurun dari 82,45 ribu jiwa pada September 2023 menjadi 79,69 ribu jiwa. Namun, di balik statistik ini, masih banyak pertanyaan tentang sejauh mana perbaikan ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama mereka yang berada di lingkaran kemiskinan.

Dr. Mukhtar Adam, Dosen Ekonomi Universitas Khairun Ternate, menilai perbaikan ini patut diapresiasi, tetapi ia mengingatkan agar tidak terpaku pada angka semata. “Setiap penduduk Maluku Utara mungkin terlihat memiliki pendapatan yang lebih merata, tetapi realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan masih nyata, terutama di wilayah pedesaan dan pulau-pulau kecil yang dikategorikan miskin,” tegasnya.

Menurut BPS, garis kemiskinan di Maluku Utara berada pada Rp 604.304 per kapita per bulan, dengan mayoritas masyarakat miskin tinggal di 57 pulau kecil. Penurunan jumlah penduduk miskin memang terlihat, tetapi kehidupan masyarakat di wilayah-wilayah ini tetap bergantung pada akses ekonomi yang terbatas dan ketergantungan tinggi pada sektor informal.

Baca Juga :  Pemda Sula dan Perum Bulog Teken NPHD-BAST, Gudang Bulog Segera Dibangun

Dr. Mukhtar Adam menyoroti dua fenomena ekonomi yang sedang terjadi di Maluku Utara, yang menciptakan paradoks antara pertumbuhan ekonomi dan realitas kesejahteraan masyarakat:

Kenaikan harga kelapa akibat pembelian besar-besaran oleh PT Niko di Halmahera Utara, dengan harga Rp 1.700–1.800 per butir, memang menguntungkan petani. Namun, kebijakan ini mendorong petani lebih memilih menjual kelapa dalam bentuk mentah ketimbang mengolahnya menjadi kopra. Meskipun pendapatan petani kelapa meningkat hingga Rp 9 juta per ton, dampak jangka panjang terhadap industri kopra yang selama ini menjadi andalan Maluku Utara masih perlu dicermati.

Di sektor hortikultura, petani di Halmahera Utara berhasil memenuhi kebutuhan lokal untuk komoditas seperti tomat. Namun, suplai dari luar daerah, seperti Manado, kerap menyebabkan harga anjlok hingga Rp 3.000 per kilogram, jauh dari harga ideal Rp 6.000 per kilogram. Kondisi ini menunjukkan lemahnya regulasi pasar lokal untuk melindungi petani dari persaingan tidak sehat.

Baca Juga :  Strategi Fiskal Sherly-Sarbin Dinilai Tepat

Tambang: Pertumbuhan Ekonomi atau Penambah Ketimpangan?

Industri tambang sering disebut sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. Pertumbuhan ekonomi provinsi ini bahkan mencapai 27% pada 2022, jauh melampaui rata-rata nasional. Presiden Jokowi juga menyebut Maluku Utara sebagai salah satu provinsi dengan indeks kebahagiaan tinggi. Namun, Dr. Mukhtar mengkritisi narasi ini sebagai “dalil yang menyesatkan.”

“Indeks kebahagiaan tidak sama dengan kesejahteraan. Data menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tambang seperti Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Halmahera Selatan justru menjadi pusat angka kemiskinan tertinggi. Pertambangan di wilayah ini tidak memberikan efek signifikan pada peningkatan pendapatan masyarakat lingkar tambang, tetapi malah memperlebar ketimpangan,” tegasnya.

Hilirisasi yang dijadikan program andalan pemerintah pusat juga belum mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Ketimpangan pendapatan dan akses ekonomi tetap menjadi tantangan yang belum dijawab oleh kebijakan pemerintah daerah maupun pusat.

Berita Terkait

Pelaku UMKM Soligi dan Kawasi Mengembangkan Usaha di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Pulau Obi
Wagub Malut Dorong Literasi Keuangan Diperkuat untuk Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
Mahasiswa KKN UGM, Harita Nickel dan Warga Bahu-Membahu Jaga Pesisir Desa Soligi
Pemprov Maluku Utara Percepat Pembangunan Gudang BULOG untuk Kendalikan Inflasi dan Stabilkan Harga Pangan
Wagub Malut Tegaskan Subsidi BBM dan Bantuan Perikanan 2026 Hanya untuk Nelayan Aktif
Pemprov Malut dan BI Matangkan Persiapan HUT Ke-81 RI, Pekan QRIS Nasional Diluncurkan di Sofifi
Pemprov Malut Matangkan Persiapan Sambut Kunjungan Wamen Koperasi RI di Ternate
BNI Perkuat Keamanan Digital, Wondr Otomatis Kunci Aplikasi Saat Ada Telepon Masuk
Berita ini 145 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:15 WIB

Pelaku UMKM Soligi dan Kawasi Mengembangkan Usaha di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Pulau Obi

Rabu, 12 Agustus 2026 - 23:45 WIB

Wagub Malut Dorong Literasi Keuangan Diperkuat untuk Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

Senin, 10 Agustus 2026 - 18:59 WIB

Mahasiswa KKN UGM, Harita Nickel dan Warga Bahu-Membahu Jaga Pesisir Desa Soligi

Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:59 WIB

Pemprov Maluku Utara Percepat Pembangunan Gudang BULOG untuk Kendalikan Inflasi dan Stabilkan Harga Pangan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Wagub Malut Tegaskan Subsidi BBM dan Bantuan Perikanan 2026 Hanya untuk Nelayan Aktif

Minggu, 2 Agustus 2026 - 20:52 WIB

Pemprov Malut dan BI Matangkan Persiapan HUT Ke-81 RI, Pekan QRIS Nasional Diluncurkan di Sofifi

Rabu, 15 Juli 2026 - 12:14 WIB

Pemprov Malut Matangkan Persiapan Sambut Kunjungan Wamen Koperasi RI di Ternate

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:35 WIB

BNI Perkuat Keamanan Digital, Wondr Otomatis Kunci Aplikasi Saat Ada Telepon Masuk

Berita Terbaru