HALSEL – Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengajar Utama Bahasa Daerah di Kabupaten Halmahera Selatan pada 10–12 Februari 2026. Kegiatan tersebut dipusatkan di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan.
Ketua Tim Kerja Pelindungan Bahasa dan Sastra, Damaz Aristy Sisvareza, menjelaskan bahwa bimtek ini bertujuan membekali guru serta komunitas penutur jati bahasa Bacan dan Makian Luar dengan metode dan materi pembelajaran bahasa daerah yang dapat diterapkan di sekolah maupun komunitas.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mengimplementasikan pembelajaran bahasa daerah secara efektif di kelas dan lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Sebanyak 80 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka terdiri atas guru SD, SMP, serta perwakilan komunitas penutur bahasa Bacan dan Makian Luar di Halmahera Selatan.
Sekretaris Dinas Pendidikan setempat, Muhammad Agus Umar, menyoroti pentingnya regulasi daerah untuk memperkuat penerapan pembelajaran bahasa daerah di sekolah. Meski demikian, menurutnya, implementasi tetap bisa dijalankan di tingkat pendidikan dasar dan menengah.
“Walaupun regulasi khusus di tingkat kabupaten belum ada, pelaksanaan di lapangan tetap dapat dilakukan,” katanya.
Ia juga menilai tugas balai bahasa cukup kompleks. Di satu sisi, harus mendorong internasionalisasi bahasa Indonesia, namun di sisi lain tetap berkewajiban merevitalisasi bahasa daerah agar tidak punah sebagai identitas budaya.
Sementara itu, Asisten III Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Halmahera Selatan, Bustami Soleman, menegaskan bahwa bahasa daerah merupakan identitas dan martabat masyarakat.
“Bahasa daerah adalah akar budaya. Jika akar ini kering, pohonnya akan rapuh. Bahasa tidak cukup dibicarakan di forum, tapi harus diwariskan kepada anak-anak kita,” tegasnya.
Ia menilai bimtek ini tepat sasaran karena menyentuh langsung para guru dan penutur jati yang menjadi jembatan antargenerasi.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, lanjut Bustami, mendukung penuh upaya pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas formalitas, melainkan benar-benar diterapkan dan berkelanjutan di sekolah serta masyarakat.






