Ketulusan Para Guru

- Jurnalis

Sabtu, 5 Juli 2025 - 03:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Plt Kepala Dimas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah duduk bersama dan berdiskusi dengan para guru.

Plt Kepala Dimas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah duduk bersama dan berdiskusi dengan para guru.

 

Oleh: Abubakar Abdullah
(Oleh-oleh dari Weda)

Awal Juli 2025, tepatnya pada tanggal 1 dan 2, saya berkesempatan mengunjungi Kota Weda, ibu kota Kabupaten Halmahera Tengah. Dalam perjalanan dinas ini, saya tidak sendiri; sejumlah sahabat teknis dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara turut mendampingi.

Sekitar pukul 10.00 WIT, kendaraan kami mulai memasuki Kota Weda yang tertata rapi dan menyuguhkan pemandangan alam yang menggugah hati. Weda tampil memikat, bukan semata karena keindahan fisiknya, tetapi karena ketulusan warganya—terutama para guru yang kami temui sepanjang dua hari itu.

Sekolah pertama yang kami kunjungi adalah SMA Negeri 1 Weda. Di sana, beberapa guru telah menanti kehadiran kami. Seorang guru senior membuka pembicaraan dengan permintaan maaf, “Maaf, Pak Kadis, penyambutannya sederhana. Kami sedang libur sekolah.” Ungkapan senada datang dari guru-guru lainnya. Saya hanya tersenyum dan menenangkan mereka, “Ibu dan Bapak semua sudah menyambut kami dengan cara terbaik. Senyum tulus dan wajah bahagia jauh lebih berharga daripada seremoni apa pun.”

Kalimat-kalimat sederhana itu menggambarkan budaya malu yang mendidik—bukan basa-basi kosong, melainkan pancaran ketulusan yang nyata. Dan ketulusan seperti ini tak akan kita temukan dalam laporan resmi, tapi terasa kuat dalam tatap muka yang jujur.

Selama dua hari itu, kami menyambangi sejumlah sekolah, mulai dari pusat kota hingga ke pinggiran. Di perjalanan pulang, kami singgah ke SMA Negeri 4 Payahe, SMA Negeri 12 di Funnaha, dan beberapa sekolah lainnya yang meski sedang libur, tetap menyisakan denyut semangat. Kunjungan ini tidak semata untuk observasi, tetapi juga dialog—baik dalam forum resmi maupun dalam percakapan santai khas Maluku Utara yang dikenal sebagai bacalepo, obrolan ringan yang sarat makna.

Baca Juga :  Warga Mangon Temukan Benda Diduga Janin, Polisi Lakukan Penyelidikan

Di SMA Negeri 4 Payahe, kami menerima laporan adanya pungutan seragam siswa sebesar Rp1 juta. Namun setelah diklarifikasi, para guru menjelaskan bahwa dana itu merupakan inisiatif orang tua murid. Mereka khawatir, jika uang seragam tidak segera disetorkan, bisa terpakai untuk kebutuhan lain di rumah. Meski demikian, begitu muncul pemberitaan yang viral, sebagian dana langsung dikembalikan. Di sini kita belajar: para guru tak hanya tulus kepada murid, tapi juga jujur dan peduli kepada para orang tua.

Sikap seperti ini mencerminkan filosofi luhur Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Guru bukan sekadar pengajar, tetapi teladan. Ketika guru menolak menerima dana tak resmi dan mengembalikannya dengan kesadaran penuh, di sanalah keteladanan menjelma nyata.

Namun ketulusan itu diuji di tengah keterbatasan. Di beberapa sekolah, kami mendapati ruang guru yang belum berkeramik, laboratorium IPA tanpa alat, ruang kepala sekolah tanpa plafon, serta gedung yang rutin terendam banjir dan belum memiliki pagar pengaman. Meski demikian, wajah para guru tetap ceria. Senyum mereka tetap hangat. Bahkan di Funnaha, kami disambut dengan kelapa muda yang segar—bukan sekadar jamuan, tetapi vitamin moral yang meneguhkan semangat kami untuk terus melayani.

Dalam sebuah obrolan santai, saya sempat menyampaikan sebuah refleksi: jika jantung sebuah perguruan tinggi adalah laboratorium dan perpustakaan—sebagaimana dikatakan oleh Prof. Arief Rachman, pakar pendidikan—maka jantung sekolah menengah juga terletak di ruang-ruang eksplorasi, bukan semata ruang kelas. Maka jika laboratorium tak berfungsi, perpustakaan belum lengkap, dan ruang belajar belum nyaman, sesungguhnya sekolah sedang mengalami gangguan jantung. Gangguan ini belum fatal, tapi perlu segera diintervensi—dengan “pola makan” yang sehat (program yang terukur) dan “olahraga” yang teratur (pengelolaan yang disiplin dan akuntabel).

Baca Juga :  Pemkot dan DPRD Tidore Sepakat Bangun Rumah Dinas, Tunjangan Perumahan Rp4,4 Miliar per Tahun Akan Dihapus

Dalam dunia pendidikan, ketulusan adalah energi tersembunyi. Ia tidak tertulis dalam Rencana Anggaran atau Indikator Kinerja, namun justru menjadi fondasi utama dalam keberhasilan proses belajar. Psikolog pendidikan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono pernah mengatakan, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh relasi batin antara guru dan murid—sebuah hubungan yang tumbuh dari kasih sayang, empati, dan ketulusan. Inilah esensi dari deep learning yang sesungguhnya: pembelajaran batiniah.

Catatan Penutup

Weda telah memberi kami oleh-oleh yang tidak bisa dimasukkan ke dalam bagasi mobil, tetapi pulang bersama kami dalam hati dan pikiran: wajah-wajah bahagia, dedikasi yang tidak mengharap pujian, serta cerita-cerita kecil yang menyentuh nurani.

Ketulusan para guru adalah cermin bahwa kualitas pendidikan bukan semata ditentukan oleh kurikulum atau infrastruktur, tetapi—dan yang terpenting—oleh karakter mereka yang menghidupinya.

Selama para guru masih menyambut dengan senyum tulus, bersikap jujur kepada orang tua murid, dan sabar menjalani keterbatasan dengan semangat melayani, saya percaya: masa depan pendidikan di Maluku Utara masih memiliki harapan.
Wallahu a’lam.

Berita Terkait

Lisa Istifadha Ishak Borong Dua Prestasi di Kejurda Pencak Silat, Harumkan Nama Ternate
Solar Power Cold Storage Diharapkan Tingkatkan Nilai Jual Ikan Nelayan Rua
Polda Malut Mutasi 502 Personel, Sejumlah Pejabat Strategis Berganti
Investasi Malut Tembus Rp40,2 Triliun, Wagub Soroti Kemiskinan dan Nasib Masyarakat Lokal
Polda Malut Perkuat Patroli dan Pencegahan Karhutla, Warga Diimbau Tak Bakar Lahan
Peduli Lingkungan, IKA FATEK UNIBRAH Ubah Sampah Plastik Jadi Papan Himbauan di Sofifi
Polda Malut Tangkap Tersangka Penipuan Umrah, Kerugian Jamaah Capai Rp2,5 Miliar
Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 Digelar di Ternate, Libatkan Perwakilan 11 Bahasa Daerah
Berita ini 343 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 10:36 WIB

Lisa Istifadha Ishak Borong Dua Prestasi di Kejurda Pencak Silat, Harumkan Nama Ternate

Sabtu, 5 September 2026 - 13:42 WIB

Solar Power Cold Storage Diharapkan Tingkatkan Nilai Jual Ikan Nelayan Rua

Kamis, 3 September 2026 - 11:44 WIB

Polda Malut Mutasi 502 Personel, Sejumlah Pejabat Strategis Berganti

Selasa, 1 September 2026 - 21:21 WIB

Investasi Malut Tembus Rp40,2 Triliun, Wagub Soroti Kemiskinan dan Nasib Masyarakat Lokal

Selasa, 1 September 2026 - 20:29 WIB

Polda Malut Perkuat Patroli dan Pencegahan Karhutla, Warga Diimbau Tak Bakar Lahan

Selasa, 1 September 2026 - 19:29 WIB

Peduli Lingkungan, IKA FATEK UNIBRAH Ubah Sampah Plastik Jadi Papan Himbauan di Sofifi

Selasa, 1 September 2026 - 16:07 WIB

Polda Malut Tangkap Tersangka Penipuan Umrah, Kerugian Jamaah Capai Rp2,5 Miliar

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:45 WIB

Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 Digelar di Ternate, Libatkan Perwakilan 11 Bahasa Daerah

Berita Terbaru