Oleh: Abubakar Abdullah
(Oleh-oleh dari Weda)
Awal Juli 2025, tepatnya pada tanggal 1 dan 2, saya berkesempatan mengunjungi Kota Weda, ibu kota Kabupaten Halmahera Tengah. Dalam perjalanan dinas ini, saya tidak sendiri; sejumlah sahabat teknis dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara turut mendampingi.
Sekitar pukul 10.00 WIT, kendaraan kami mulai memasuki Kota Weda yang tertata rapi dan menyuguhkan pemandangan alam yang menggugah hati. Weda tampil memikat, bukan semata karena keindahan fisiknya, tetapi karena ketulusan warganya—terutama para guru yang kami temui sepanjang dua hari itu.
Sekolah pertama yang kami kunjungi adalah SMA Negeri 1 Weda. Di sana, beberapa guru telah menanti kehadiran kami. Seorang guru senior membuka pembicaraan dengan permintaan maaf, “Maaf, Pak Kadis, penyambutannya sederhana. Kami sedang libur sekolah.” Ungkapan senada datang dari guru-guru lainnya. Saya hanya tersenyum dan menenangkan mereka, “Ibu dan Bapak semua sudah menyambut kami dengan cara terbaik. Senyum tulus dan wajah bahagia jauh lebih berharga daripada seremoni apa pun.”
Kalimat-kalimat sederhana itu menggambarkan budaya malu yang mendidik—bukan basa-basi kosong, melainkan pancaran ketulusan yang nyata. Dan ketulusan seperti ini tak akan kita temukan dalam laporan resmi, tapi terasa kuat dalam tatap muka yang jujur.
Selama dua hari itu, kami menyambangi sejumlah sekolah, mulai dari pusat kota hingga ke pinggiran. Di perjalanan pulang, kami singgah ke SMA Negeri 4 Payahe, SMA Negeri 12 di Funnaha, dan beberapa sekolah lainnya yang meski sedang libur, tetap menyisakan denyut semangat. Kunjungan ini tidak semata untuk observasi, tetapi juga dialog—baik dalam forum resmi maupun dalam percakapan santai khas Maluku Utara yang dikenal sebagai bacalepo, obrolan ringan yang sarat makna.
Di SMA Negeri 4 Payahe, kami menerima laporan adanya pungutan seragam siswa sebesar Rp1 juta. Namun setelah diklarifikasi, para guru menjelaskan bahwa dana itu merupakan inisiatif orang tua murid. Mereka khawatir, jika uang seragam tidak segera disetorkan, bisa terpakai untuk kebutuhan lain di rumah. Meski demikian, begitu muncul pemberitaan yang viral, sebagian dana langsung dikembalikan. Di sini kita belajar: para guru tak hanya tulus kepada murid, tapi juga jujur dan peduli kepada para orang tua.
Sikap seperti ini mencerminkan filosofi luhur Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Guru bukan sekadar pengajar, tetapi teladan. Ketika guru menolak menerima dana tak resmi dan mengembalikannya dengan kesadaran penuh, di sanalah keteladanan menjelma nyata.
Namun ketulusan itu diuji di tengah keterbatasan. Di beberapa sekolah, kami mendapati ruang guru yang belum berkeramik, laboratorium IPA tanpa alat, ruang kepala sekolah tanpa plafon, serta gedung yang rutin terendam banjir dan belum memiliki pagar pengaman. Meski demikian, wajah para guru tetap ceria. Senyum mereka tetap hangat. Bahkan di Funnaha, kami disambut dengan kelapa muda yang segar—bukan sekadar jamuan, tetapi vitamin moral yang meneguhkan semangat kami untuk terus melayani.
Dalam sebuah obrolan santai, saya sempat menyampaikan sebuah refleksi: jika jantung sebuah perguruan tinggi adalah laboratorium dan perpustakaan—sebagaimana dikatakan oleh Prof. Arief Rachman, pakar pendidikan—maka jantung sekolah menengah juga terletak di ruang-ruang eksplorasi, bukan semata ruang kelas. Maka jika laboratorium tak berfungsi, perpustakaan belum lengkap, dan ruang belajar belum nyaman, sesungguhnya sekolah sedang mengalami gangguan jantung. Gangguan ini belum fatal, tapi perlu segera diintervensi—dengan “pola makan” yang sehat (program yang terukur) dan “olahraga” yang teratur (pengelolaan yang disiplin dan akuntabel).
Dalam dunia pendidikan, ketulusan adalah energi tersembunyi. Ia tidak tertulis dalam Rencana Anggaran atau Indikator Kinerja, namun justru menjadi fondasi utama dalam keberhasilan proses belajar. Psikolog pendidikan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono pernah mengatakan, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh relasi batin antara guru dan murid—sebuah hubungan yang tumbuh dari kasih sayang, empati, dan ketulusan. Inilah esensi dari deep learning yang sesungguhnya: pembelajaran batiniah.
Catatan Penutup
Weda telah memberi kami oleh-oleh yang tidak bisa dimasukkan ke dalam bagasi mobil, tetapi pulang bersama kami dalam hati dan pikiran: wajah-wajah bahagia, dedikasi yang tidak mengharap pujian, serta cerita-cerita kecil yang menyentuh nurani.
Ketulusan para guru adalah cermin bahwa kualitas pendidikan bukan semata ditentukan oleh kurikulum atau infrastruktur, tetapi—dan yang terpenting—oleh karakter mereka yang menghidupinya.
Selama para guru masih menyambut dengan senyum tulus, bersikap jujur kepada orang tua murid, dan sabar menjalani keterbatasan dengan semangat melayani, saya percaya: masa depan pendidikan di Maluku Utara masih memiliki harapan.
Wallahu a’lam.






