TERNATE – Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) yang digagas Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian bersama mitra nasional dan internasional.
Hal tersebut disampaikan Asisten II Bidang Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Maluku Utara, Sri Haryati Hatari, saat mewakili Gubernur Maluku Utara dalam kegiatan Technical Working Group (TWG) Proyek CDCSUI.
Sri Haryati menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian, Global Environment Facility (GEF), Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), serta seluruh mitra yang telah menetapkan Maluku Utara sebagai salah satu lokasi pelaksanaan proyek strategis tersebut.
Menurutnya, proyek CDCSUI merupakan langkah penting dalam memperkuat konservasi sekaligus pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman tanaman pertanian Indonesia, khususnya komoditas rempah yang menjadi kekayaan Maluku Utara.
“Pemilihan Maluku Utara sebagai lokasi proyek ini merupakan bentuk kepercayaan yang sangat berarti. Pemerintah daerah menyambut baik upaya konservasi sumber daya genetik tanaman yang diharapkan mampu mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan,” ujar Sri Haryati.
Ia mengatakan, Maluku Utara yang dikenal sebagai The Land of Spices memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan rempah dunia. Kekayaan tersebut, lanjutnya, bukan hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga merupakan modal strategis yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Menurut Sri Haryati, komoditas pala dan cengkeh sebagai identitas Maluku Utara memiliki nilai ekonomi, budaya, dan konservasi yang sangat tinggi. Keanekaragaman genetik kedua komoditas tersebut merupakan aset bangsa yang harus dilestarikan bagi generasi mendatang.
Karena itu, pelaksanaan proyek CDCSUI dinilai memiliki peran strategis, tidak hanya dalam menjaga plasma nutfah dan sumber daya genetik tanaman, tetapi juga membangun sistem pertanian yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ketahanan pangan, menciptakan nilai tambah ekonomi, serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara, kata dia, menyambut baik penetapan Kota Tidore Kepulauan dan Kabupaten Halmahera Selatan sebagai lokasi prioritas pelaksanaan proyek dengan fokus pengembangan pala dan cengkeh.
“Pendekatan ini sangat relevan karena kedua daerah tersebut memiliki sejarah panjang sebagai pusat keragaman genetik rempah dunia,” katanya.
Sri Haryati menambahkan, pembangunan sektor pertanian saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan ekosistem, adaptasi terhadap perubahan iklim, pelestarian biodiversitas, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, arah pembangunan tersebut sejalan dengan visi nasional melalui Asta Cita Presiden Republik Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan kedaulatan pangan, pengembangan ekonomi berbasis potensi daerah, hilirisasi sektor pertanian, penguatan riset dan inovasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui RPJMD 2025–2029 juga menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu pilar utama transformasi ekonomi daerah, berdampingan dengan sektor kelautan, perikanan, industri hilirisasi, dan pariwisata.
Meski demikian, Sri Haryati mengakui sektor pertanian masih menghadapi tantangan, terutama berkurangnya minat generasi muda akibat peralihan tenaga kerja ke sektor pertambangan.
“Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Karena itu, pembangunan pertanian harus mampu menghadirkan sistem pertanian yang modern, menguntungkan, berbasis teknologi, dan menarik bagi generasi muda. Tantangan ini juga menjadi perhatian dalam implementasi awal proyek CDCSUI di Maluku Utara,” ujarnya.
Ia berharap forum Technical Working Group tidak hanya menghasilkan rekomendasi teknis, tetapi juga mampu melahirkan strategi konkret yang memperkuat kolaborasi lintas sektor, sinergi antarlevel pemerintahan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga keanekaragaman hayati.
Sri Haryati juga mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan forum tersebut sebagai wadah berbagi pengetahuan, menyusun langkah strategis, dan memperkuat komitmen bersama dalam melestarikan kekayaan hayati Maluku Utara.
“Melalui proyek ini, kami berharap Maluku Utara semakin dikenal sebagai pusat konservasi rempah dunia sekaligus menjadi contoh praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya genetik tanaman yang berkelanjutan,” tutupnya.






