Seminar Budaya Ungkap Makna Ritual Adat Dol Meja, Warisan Kearifan Lokal Masyarakat Sula

- Jurnalis

Kamis, 23 Juli 2026 - 17:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pose bersama usai pelaksanaan seminar. Dokumentasi: Junika Buamona.

Pose bersama usai pelaksanaan seminar. Dokumentasi: Junika Buamona.

SANANA – Sanggar Seni Budaya Lom Poa do Hoi Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, sukses menggelar seminar kebudayaan bertema “Pelestarian Budaya Adat Dol Meja sebagai Warisan Budaya dan Kearifan Lokal”. Kegiatan ini menjadi wadah untuk menggali nilai filosofis sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan tradisi adat masyarakat Sula.

Seminar berlangsung selama dua hari, 20–21 Juli 2026, di Gedung Pertemuan Desa Wailau, Kecamatan Sanana. Kegiatan diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah daerah dan pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, pelajar, komunitas budaya, pemuda, hingga masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian bahasa dan budaya Sula.

Ketua Panitia sekaligus Ketua Sanggar Seni Budaya Lom Poa do Hoi, Gamar Abubakar, mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari Program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang dipercayakan kepada sanggar.

Kepada marasai.id, Kamis (23/7/2026), Gamar menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menggali makna dan nilai filosofi Ritual Adat Dol Meja sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kelestariannya sebagai identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat Kepulauan Sula.

Menurutnya, tema seminar dipilih sebagai respons atas tantangan yang semakin besar dalam mempertahankan bahasa daerah dan tradisi budaya warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.

“Bahasa Sula merupakan identitas masyarakat yang harus terus dipelihara agar tidak mengalami kepunahan. Demikian pula Ritual Adat Dol Meja yang memiliki nilai sejarah, filosofi, sosial, dan budaya yang sangat tinggi serta menjadi salah satu warisan budaya yang memperlihatkan jati diri masyarakat Kepulauan Sula,” ujarnya.

Baca Juga :  Resmikan RSP FAM Dofa, Bupati Sula Minta Tambahan 36 Nakes: Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Terganggu Efisiensi

Ia menegaskan, Ritual Adat Dol Meja bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, solidaritas, kekeluargaan, serta memperkuat hubungan kekerabatan atau Pia Sua dalam kehidupan masyarakat.

“Nilai-nilai tersebut merupakan kekayaan budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup dan berkembang,” katanya.

Melalui seminar tersebut, Gamar berharap lahir berbagai gagasan, rekomendasi, dan langkah nyata yang dapat menjadi dasar pelestarian Bahasa Sula maupun Ritual Adat Dol Meja secara berkelanjutan. Ia juga berharap sinergi antara pemerintah, lembaga kebudayaan, akademisi, pelaku adat, dan masyarakat semakin kuat dalam menjaga serta mengembangkan warisan budaya daerah.

Sementara itu, narasumber seminar, Burhan Umaternate, menjelaskan bahwa Ritual Adat Dol Meja atau bawa meja merupakan tradisi masyarakat Sula yang mencerminkan solidaritas sosial, tanggung jawab kekerabatan, dan penghormatan kepada keluarga yang sedang berduka.

Tradisi ini dilaksanakan oleh keluarga pihak perempuan kepada anak perempuan yang telah menikah ketika keluarga suaminya mengalami musibah kematian, baik ayah mertua maupun suami.

Menurut Burhan, istilah Dol Meja merujuk pada meja atau ranjang kayu sederhana yang digunakan untuk menyusun berbagai bantuan berupa kebutuhan pokok, hasil kebun, makanan, dan perlengkapan lainnya. Meja tersebut kemudian dipikul bersama menuju rumah duka sebagai simbol dukungan moral, kasih sayang, dan kepedulian keluarga.

Baca Juga :  Ketua TP PKK Tidore Apresiasi Mahasiswa KKN dan Pemuda Gurabunga Sukses Gelar Porseni 2026

Ia menambahkan, ritual tersebut tidak hanya bermakna mengantarkan bantuan, tetapi juga menjadi mekanisme sosial yang memperkuat hubungan antarkeluarga (Pia Sua), menjaga keharmonisan hubungan besan, dan menegaskan bahwa duka cita merupakan tanggung jawab bersama seluruh keluarga besar.

Dalam pelaksanaannya, Ritual Adat Dol Meja juga diiringi dialog adat menggunakan Bahasa Sula yang berisi penyampaian maksud kedatangan, ungkapan belasungkawa, doa, serta nasihat adat, sehingga semakin memperkuat nilai budaya dan identitas masyarakat Sula.

Burhan juga menjelaskan bahwa apabila yang meninggal dunia adalah suami dari anak perempuan, keluarga asal perempuan dapat membawa pulang sementara anak perempuan tersebut selama masa berkabung. Tradisi ini bukan untuk memutus hubungan dengan keluarga suami, melainkan sebagai bentuk perlindungan, pendampingan psikologis, dan kasih sayang keluarga terhadap anggota keluarganya yang sedang menghadapi masa sulit.

“Dengan demikian, Ritual Adat Dol Meja merupakan tradisi masyarakat Sula yang dilaksanakan oleh keluarga pihak perempuan sebagai bentuk solidaritas, kepedulian, dan tanggung jawab kekerabatan terhadap anak perempuan yang telah menikah ketika keluarga suaminya mengalami kedukaan. Ritual ini diwujudkan melalui pengantaran bantuan menggunakan dol meja, disertai dialog adat dan simbol-simbol budaya yang mencerminkan nilai gotong royong, kasih sayang, penghormatan, serta pelestarian identitas budaya masyarakat Sula,” tutup Burhan.

Berita Terkait

PABPDESI Kepulauan Sula Resmi Dibentuk, Zulkarnain Lumbessy Terpilih sebagai Ketua
KKSS Tidore Meriahkan Karnaval Budaya Kieraha, Tegaskan Komitmen untuk Maluku Utara
Perkuat Digitalisasi Pendidikan, Diskominfo Sula Salurkan Router Internet ke Sejumlah Sekolah
Lindungi Hak Guru, PGRI Malut dan PGRI Sula Sosialisasikan Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026
Disdik Kepulauan Sula Dorong Pengembangan Karier Guru Berbasis Digital melalui SIM KSPSTK
Dugaan Percakapan WhatsApp Tersebar di Facebook, Anggota DPRD Sula Diadukan ke BK
KONI Sula Cup KU-12 Resmi Bergulir, Kamarudin Mahdi: Pondasi Emas Masa Depan Sepak Bola Sula
Revitalisasi Nilai Lokal Kie Se Kolano, Generasi Muda Diajak Kembali ke Akar Budaya
Berita ini 65 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:24 WIB

PABPDESI Kepulauan Sula Resmi Dibentuk, Zulkarnain Lumbessy Terpilih sebagai Ketua

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Perkuat Digitalisasi Pendidikan, Diskominfo Sula Salurkan Router Internet ke Sejumlah Sekolah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:57 WIB

Lindungi Hak Guru, PGRI Malut dan PGRI Sula Sosialisasikan Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:40 WIB

Disdik Kepulauan Sula Dorong Pengembangan Karier Guru Berbasis Digital melalui SIM KSPSTK

Sabtu, 26 September 2026 - 16:57 WIB

Dugaan Percakapan WhatsApp Tersebar di Facebook, Anggota DPRD Sula Diadukan ke BK

Selasa, 22 September 2026 - 07:23 WIB

KONI Sula Cup KU-12 Resmi Bergulir, Kamarudin Mahdi: Pondasi Emas Masa Depan Sepak Bola Sula

Senin, 21 September 2026 - 19:03 WIB

Revitalisasi Nilai Lokal Kie Se Kolano, Generasi Muda Diajak Kembali ke Akar Budaya

Minggu, 13 September 2026 - 04:53 WIB

Jembatan Garuda Merah Putih di Fat Iba Diresmikan, Dandim Sula Ajak Warga Jaga Hasil Gotong Royong

Berita Terbaru