SOFIFI— Universitas Bumi Hijrah (Unibrah) Tidore menggelar kuliah tamu bertajuk “Berani Bicara, Berani Berdampak” yang menghadirkan Vidson Toory, M.A., sebagai pemateri di Aula Universitas Bumi Hijrah, Selasa (6/10/2026).
Kuliah tamu tersebut dihadiri Wakil Rektor I, Djafar Dahlan, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, Julia Ismail, Dekan Teknik, M. Dedi Buamona serta para dosen dan ratusan mahasiswa, kuliah tamu ini mengangkat tema pentingnya kemampuan komunikasi, keberanian menyampaikan gagasan, serta tanggung jawab mahasiswa dalam menggunakan suara dan berbagai platform komunikasi di era digital.
Dalam materinya, Vidson menekankan bahwa banyak orang sebenarnya memiliki ide dan potensi, namun tidak mampu mengomunikasikannya karena takut salah, takut dinilai, atau khawatir tidak didengar.
Menurutnya, keberanian berbicara menjadi langkah awal untuk menghadirkan perubahan.
“Suara kita bisa menjadi awal dari sebuah perubahan,” demikian pesan yang disampaikan Vidson dalam materi kuliahnya.
Ia menjelaskan, berbicara tidak sekadar menyampaikan pesan. Komunikasi yang baik harus mampu menciptakan dampak. Karena itu, sebuah pesan perlu dibangun melalui kepercayaan diri, koneksi dengan audiens, hingga mendorong lahirnya sebuah tindakan.
Vidson juga memperkenalkan formula 3C, yakni Clear atau jelas, Concise atau ringkas, dan Compelling atau meyakinkan. Menurutnya, pesan yang disampaikan harus mudah dipahami, tidak bertele-tele, serta mampu membuat audiens memiliki alasan untuk peduli terhadap apa yang disampaikan.
Dalam membangun komunikasi yang kuat, mahasiswa juga didorong menggunakan struktur sederhana, yakni “Say It, Explain It, Prove It”. Artinya, pembicara harus terlebih dahulu menyampaikan gagasan, menjelaskan mengapa gagasan tersebut penting, kemudian memperkuatnya dengan contoh, data, pengalaman, atau bukti.
Tak hanya soal kata-kata, Vidson mengingatkan mahasiswa agar memperhatikan bahasa tubuh dan suara ketika berbicara. Kontak mata, postur tubuh, ekspresi wajah, gerakan tangan, hingga intonasi, tempo dan artikulasi dinilai turut menentukan kekuatan sebuah pesan.
Ia juga mengajak mahasiswa mengubah perspektif dalam melakukan public speaking. Berbicara di depan publik, kata Vidson, bukan semata-mata tentang bagaimana seseorang terlihat pintar, tetapi bagaimana audiens dapat memahami dan memperoleh sesuatu dari pesan yang disampaikan.
“Audience first,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam materi tersebut.
Memasuki era digital, Vidson menilai keberanian berbicara mahasiswa tidak hanya diwujudkan melalui presentasi atau forum akademik. Mahasiswa kini memiliki banyak ruang untuk menyampaikan gagasan, mulai dari WhatsApp, Instagram, TikTok, LinkedIn, podcast hingga video.
Namun, keberadaan berbagai platform tersebut harus diikuti dengan pertanyaan mengenai kontribusi yang diberikan melalui setiap pesan atau konten yang diproduksi.
Vidson mengingatkan bahwa setiap unggahan, komentar, video maupun pernyataan yang disampaikan di ruang publik turut membentuk jejak digital dan personal brand seseorang.
“Your voice becomes your reputation,” pesannya.
Karena itu, keberanian berbicara juga harus diiringi tanggung jawab. Vidson menegaskan bahwa berani berbicara bukan berarti berbicara sembarangan, menyerang orang lain, menyebarkan informasi yang belum benar, ataupun sekadar mencari perhatian.
Sebaliknya, mahasiswa dituntut untuk berani berbicara, bijak dalam berbicara, serta bertanggung jawab atas setiap perkataan.
Untuk memperkuat pesan tersebut, mahasiswa diberikan sejumlah tantangan praktis, mulai dari berani bertanya setidaknya satu kali, membagikan satu ide yang bermanfaat, berlatih berbicara selama 3–5 menit setiap hari, membuat konten positif, hingga berani mengambil peran sebagai pemimpin.
Peserta juga diajak mengikuti latihan singkat selama 60 detik dengan memperkenalkan diri, menyampaikan satu persoalan di lingkungan sekitar yang ingin diubah, sekaligus menawarkan solusi atas persoalan tersebut.
Vidson sendiri merupakan putra Desa Bukumatiti, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Ia menempuh pendidikan S1 pada bidang English Language and Arts Education di Universitas Khairun Ternate dan meraih gelar M.A. dalam Applied Linguistics dari University of Pannonia, Veszprém, Hungaria.
Pengalaman profesionalnya antara lain pernah berkecimpung dalam bidang konservasi di Manokwari, bekerja sebagai frontliner Bank Artha Graha International di Ternate, menjadi dosen junior Universitas Terbuka, dan sejak 2021 bekerja sebagai HR Staff Compliance and Partnership Relations pada sebuah perusahaan swasta di Halmahera Tengah.
Melalui kuliah tamu tersebut, mahasiswa Unibrah tidak hanya diajak memahami teknik berbicara di depan publik, tetapi juga membangun keberanian untuk menyampaikan gagasan, mengubah gagasan menjadi tindakan, serta memastikan suara yang mereka sampaikan memiliki manfaat dan dampak bagi lingkungan.
Pesan utama Vidson pun ditutup dengan ajakan agar mahasiswa tidak menunggu menjadi hebat untuk mulai berbicara.
“Berani bicara. Berani berdampak.”






