HALTIM,marasai.id – Pemerintah Provinsi Maluku Utara berkeyakinan akan dapat mewujudkan visi gubernur menuju Maluku Utara sejahtera, melalui sektor pertanian dan kemandirian pangan.
Namun generasi muda pekerja tani saat ini, telah beralih profesi ke sektor pertambangan, sehingga ini menjadi dilema tersendiri.
“Meskipun di perusahaan tambang menyerap tenaga kerja yang banyak dan kepastian memiliki pendapatan besar setiap bulan, namun pada sektor pertanian akan kekurangan tenaga kerja dan sulit dapat mewujudkan kemandirian pangan, padahal sektor pertanian juga menjanjikan,” Kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Sri Haryati Hatari saat menyampaikan sambutan pada acara gerakan panen padi sawah di Desa Toboino Kecamatan Wasile Timur Kabupaten Halmahera Timur, Kamis (16/3/2023).
Menurutnya, pemerintah provinsi telah berupaya untuk menciptakan lapangan kerja seluas luasnya melalui sektor pertambangan, akan tetapi keberlanjutan dan kemandirian pangan juga menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan perekonomian petani.
“Memang bekerja di tambang itu penghasilan besar dan cepat, tetapi tingkat stress juga tinggi, sementara sekor pertanian ini sangat menjanjikan untuk kemajuan perekonomian petani,” ungkap Sri yang juga pimpinan wilayah Aisyiyah Maluku Utara ini.
Hasil pertanian kata Sri, justru dapat dipasarkan ke perusahaan tambang sehingga dari segi ketersediaan pasar sudah jelas, dimana pemerintah siap memfasilitasi melalui asosiasi pedagang agar petani bisa memasok hasil pertanian ke perusahaan.
“Untuk perusahaan IWIP saja ada 40 ribu pekerja, apakah para petani mampu secara kontinyu untuk memenuhi kebutuhan makanan untuk para pekerja,” tanyanya.
Selain itu, untuk kemandirian pangan sendiri pihak provinsi melalui Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara, telah menetapkan sasaran luas panen padi pada musim tanam 2022 dan 2023 seluas 31.841 hektar, dengan target produksi padi sebanyak 91.026 ton gabah kering giling atau setara dengan 56.436 ton beras.
Menurutnya, kebutuhan konsumsi beras
Malut 124,787 ton per tahun, masih
kekurangan beras sebanyak 68,351 ton, sehingga pada tahun 2024 diharapkan bisa meningkatkan produksi 122.568 ton gabah kering giling atau setara dengan 75.992 ton beras atau 65-70 persen sudah bisa disediakan dari produksi lokal, sesuai dengan target jangka panjang.
“Olehnya itu kita harapkan agar generasi muda petani tetap fokus bertani untuk memenuhi kebutuhan tersebut, karena pasarnya sanga menjanjikannya, dan ingat saat krisis terjadi yang paling dibutuhkan adalah ketersediaan pangan, sehingga kemandirian pangan sangat diperlukan,” harapnya.






