KESEHATAN MENTAL DAN JIWA DALAM PERSPEKTIF QS AL KAUTSAR AYAT 1-3

- Jurnalis

Selasa, 15 Juli 2025 - 06:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Hamdan Hasan, M. Ag, 

إِنَّاۤ أَعۡطَیۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ﴾ ﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ﴾ ﴿إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ﴾
sesungguhnya kami telah memberimu nikmat yg banyak. Maka shalatlah ikhlas karena Allah dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yg membencimu dialah yg terputus.

1. Tafsi Ayat Menurut Ibnu Katsir.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Maksud ayat di atas adalah Menurut Ibnu Katsir, ini mencakup sungai di surga, ilmu, nubuwah, umat yang banyak, dan nikmat dunia-akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits shahih bahwa al-Kawthar adalah sungai di surga yang diberikan khusus kepadanya.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Allah memerintahkan Nabi agar Shalat ikhlas hanya untuk Alla dan menyembelih kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat besar. Ini adalah pelajaran tauhid dan ibadah.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Musuh Nabi (seperti Al-‘Āṣ bin Wā’il) menyebut Nabi “abtar” (terputus nasab karena anak laki-lakinya wafat).

Namun, Allah membalikkan celaan itu: yang membenci Nabi-lah yang sesungguhnya terputus dari kebaikan dan rahmat Allah.

Baca Juga :  Tidore dan Potensi yang Harus Dikembangkan

Sebab Turunnya Ayat

Salah satu orang Quraisy yang paling terkenal mencela Rasulullah ﷺ saat itu adalah Al-‘Āṣ ibn Wā’il as-Sahmī. Ia berkata tentang Nabi: Biarkan dia (Muhammad), dia adalah seorang yang terputus (abtar). Orang yang tidak punya keturunan laki-laki, sehingga tidak akan ada yang meneruskan namanya.

Ini diucapkan setelah wafatnya putra Nabi, yaitu Al-Qasim, kemudian disusul oleh putra lainnya, Abdullah. Karena itu, kaum musyrik mengejek Nabi seolah beliau kehilangan kehormatan dan pengaruh sosial.

Menurut beberapa riwayat yang sahih dan populer di kalangan ulama tafsir seperti Imam al-Suyuthi dan al-Wahidi, surat ini diturunkan sebagai penghiburan bagi Nabi Muhammad ﷺ, ketika beliau diejek dan dicaci oleh orang-orang musyrik.

Tafsiran dari Sisi Ilmu Kesehatan atau Kedokteran

إِنَّاۤ أَعۡطَیۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ

  1. Kesehatan mental terbukti meningkat dengan rasa syukur.
  2. Al-Kawthar sebagai simbol nikmat mendorong rasa syukur.
  3.  Riset psikologi menyatakan bahwa rasa syukur memperbaiki:
    1. Kualitas tidur
    2. Kesehatan jantung
    3. Kesehatan mental dan suasana hati
    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ
Baca Juga :  Belajar di SMK, Membangun Masa Depan Sejak Dini

Shalat secara medis terbukti:

  1. Meningkatkan fleksibilitas otot dan persendian.
  2. Menstabilkan detak jantung dan pernapasan.
  3. Memberikan efek relaksasi dan mindfulness.
  4. Mengurangi tekanan darah dan stres

Penyembelihan yang sesuai syariat Islam:

  1. Menjamin kesehatan daging (darah dikeluarkan sempurna).
  2.  Menghindari penyakit zoonosis (jika hewan sehat).
  3. Gizi dari daging kurban meningkatkan protein dan zat besi bagi yang kekurangan asupan, terutama masyarakat miskin.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ

Orang yang membenci dan memutus hubungan sosial (seperti yang membenci Nabi) berisiko mengalami:

  1. Gangguan mental.
  2. depresi
  3. kemarahan kronis
  4. Kesepian sosial yang berbahaya bagi jantung dan imun
  5. isolasi sosial berdampak seperti merokok 15 batang sehari.

Berita Terkait

Pemilih Pemula Maluku Utara: Jangan Sekadar Mencoblos, Belajarlah Mengawal Demokrasi
Pemilu 2029: Menguji Kualitas Demokrasi, dari Bilik Suara hingga Ruang Digital
Air Keruh di Sungai Paceda: Ketika Kemarau, Dugaan Kelalaian, dan Krisis Air Bersih Mengancam Kehidupan Warga
Rudapaksa Sedarah: Bencana Moral dan Penegakan Hukum Islam Tanpa Ampun
81 Tahun Indonesia Merdeka dan Ironi di Balik Pintu Rumah: Mengurai KDRT Berbasis Gender pada Keluarga Muslim di Maluku Utara
Menatap Usia 81: Merawat Indonesia dari Ketimpangan dan Ironi, Antara Impian dan Kenyataan
918; Panggilan Dari Masa Depan
Upaya “Mencerdaskan” dan Tradisi Belajar yang Dinamis
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Pemilih Pemula Maluku Utara: Jangan Sekadar Mencoblos, Belajarlah Mengawal Demokrasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Pemilu 2029: Menguji Kualitas Demokrasi, dari Bilik Suara hingga Ruang Digital

Jumat, 16 Oktober 2026 - 04:50 WIB

Air Keruh di Sungai Paceda: Ketika Kemarau, Dugaan Kelalaian, dan Krisis Air Bersih Mengancam Kehidupan Warga

Selasa, 1 September 2026 - 04:44 WIB

Rudapaksa Sedarah: Bencana Moral dan Penegakan Hukum Islam Tanpa Ampun

Minggu, 9 Agustus 2026 - 22:24 WIB

81 Tahun Indonesia Merdeka dan Ironi di Balik Pintu Rumah: Mengurai KDRT Berbasis Gender pada Keluarga Muslim di Maluku Utara

Minggu, 9 Agustus 2026 - 22:13 WIB

Menatap Usia 81: Merawat Indonesia dari Ketimpangan dan Ironi, Antara Impian dan Kenyataan

Senin, 13 April 2026 - 08:53 WIB

918; Panggilan Dari Masa Depan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 23:18 WIB

Upaya “Mencerdaskan” dan Tradisi Belajar yang Dinamis

Berita Terbaru