SOFIFI – Komunitas Pecinta Lingkungan Hidup Lintas Agama (Kasih Alam) resmi dikukuhkan dalam kegiatan pelantikan dan rapat kerja yang berlangsung di Aula Disarpus Malut, Sabtu (14/2/2026).
Ketua Komunitas Kasih Alam Maluku Utara, Taufik Z. Karim menegaskan bahwa pengukuhan pengurus yang dilaksanakan hari ini bukan sekadar seremoni atau formalitas organisasi.
Menurut Taufik, pengukuhan merupakan momentum sakral dan titik awal pengabdian yang telah disepakati bersama sejak 1 Juli 2025 di Café Mimaca.
“Menjadi pengurus bukan tentang jabatan, tetapi tentang pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, bahkan materi. Ini adalah komitmen untuk memberi,” tegasnya.
Ia meyakini bahwa orang-orang yang tergabung dalam Komunitas Kasih Alam Maluku Utara adalah sosok-sosok hebat yang mampu melahirkan gagasan dan tindakan nyata demi kepentingan masyarakat Maluku Utara dan Indonesia pada umumnya.
Dalam sambutannya, Taufik juga menyampaikan sejumlah harapan kepada seluruh pengurus dan anggota. Pertama, ia menekankan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak mengenal sekat agama maupun golongan.
“Lingkungan adalah milik bersama. Dampaknya dirasakan oleh semua, tanpa terkecuali. Karena itu, kita harus memiliki satu rasa dan satu tujuan dalam menjaganya,” ujarnya.
Kedua, ia menegaskan bahwa organisasi ini lahir bukan karena kepentingan politik praktis, melainkan murni sebagai gerakan sosial. Komunitas Kasih Alam Maluku Utara, lanjutnya, merupakan bentuk kolaborasi lintas umat beragama yang berjuang untuk kelestarian dan keadilan lingkungan hidup di Maluku Utara.
Ketiga, Taufik mengajak seluruh pengurus untuk menjadi pelopor edukasi kepada masyarakat. Edukasi tersebut mencakup pentingnya menjaga lingkungan, melakukan aksi nyata dalam pengelolaan sampah, hingga gerakan penanaman pohon serta menanamkan rasa cinta lingkungan kepada generasi penerus.
Di akhir penyampaiannya, Taufik menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup, khususnya pengelolaan sampah, tidak dapat diselesaikan hanya dengan slogan atau seruan semata.
“Masalah sampah tidak akan selesai hanya dengan kata ‘dibersihkan’, meski diulang 1001 kali. Kita butuh aksi nyata, sesuai kemampuan kita masing-masing,” pungkasnya.








