MARASAI.id – Penggila MotoGP di Indonesia tak tak terhitung jumlahnya, animonya sangat tinggi bahkan ribuan orang rela menghabiskan banyak uang untuk bisa menyaksikan MotoGP secara langsung di sirkuit.
Melihat besarnya penggemar MotoGP, pemerintah Indonesia bahkan sampai membuat Sirkuit Mandalika di Lombok yang begitu indah. Namun pertanyaan besarnya apakah orang Indonesia hanya mampu menjadi penonton atau dapat mengutus atlet balapnya yang mampu bersaing dengan Fransisco Bagnaia, Jorge Martin, Marc Marquez dan kawan-kawan lainnya di MotoGP.
Tentu tidak mudah untuk bisa masuk di MotoGP, tapi bukan berarti juga tidak mungkin bisa, sebab Indonesia tidak pernah kekurangan bakat terbaik di berbagai bidang, termasuk juga MotoGP.
Hampir disetip daerah di Indonesia punya atlet balap yang hebat, termasuk di Provinsi Maluku Utara yang memiliki Rifaldi Muhammad Teher yang sudah menorehkan banyak prestasi di bidang adu cepat menunggangi kuda besi ini.
Kepada MARASAI.id, lelaki yang akrab disapa Rifal ini mengaku sudah menyukai balap motor sejak kecil, sehingga memotivasinya menjadi salah satu atlet balap motor asal Kota Tidore Kepulauan, yang sering mengikuti berbagai kejuaraan dari tingkat daerah provinsi hingga nasional.
“Rifal sejak kecil sudah akrab dengan motor karena tumbuh dalam keluarga pecinta otomotif, ayah juga adalah sosok yang gemar akan otomotif,” ungkap Rifal.
Rifal lahir di Tidore pada 1 Oktober 2001, merupakan anak kedua dari 3 bersaudara dari pasangan M. Taher Husen dan Rahma Hayatuddin.
Dia mengawali debutnya sebagai Atlet Balap Motor pada tahun 2014 melalui tim Gala Indo Racing Team, pada tahun 2016 ia berhasil mewakili Maluku Utara pada ajang balap motor pra PON tingkat nasional yang di gelar di Sentul Intenasional Sirkuit Bogor Jawa Barat.
“2014 awal debut dan terus menekuni dunia ini bertahun-tahun kemudian, meskipun saat itu masih sekolah tapi saat ada kejuaraan sering ikut,” ujarnya.
Puncak karirnya pada tahun 2019 saat berhasil mengukuhkan dirinya sebagai juara region Indonesia timur di kelas mp3 dan mp4 khusunya papua, papua barat, Maluku dan Maluku utara hal tersebut membuat ia menjadi salah satu atlet yang patut di perhitungkan.
“Itu moment yang sangat mengharukan saat bisa naik podium, karena perjalanan menjadi atlet balap tak mudah, ada banyak biaya yang harus dikeluarkan dari kantong pribadi,” jelasnya.
Meskipun saat ini tak seaktif dulu lagi, kini ia menaruh harapan besar kepada pemerintah, terkhususnya pemerintah provinsi sebagai ikhtiar untuk bagaimana mempersiapkan, memberdayakan dan mengembangkan atlet yang potensial yang berasal dari Maluku Utara.
“Mengingat beberapa tahun ke depan Indonesia mengalami bonus demografi di mana terjadi peningkatan penduduk sebuah negara dengan angka usia produktif (15-64 tahun: red) akan lebih besar di bandingkan usia non produktif (65 tahun ke atas), maka itu penting kiranya untuk diasa bakat generasi muda yang bisa berkiprah diberbagai bidang termasuk balap,” ungkap Rifal yang kini mengabdi di Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Maluku Utara ini.
Sebagai generasi muda, dia berharap perhatian penuh pemerintah dan jajaran terkait untuk bagaimana mempersiapkan generasi muda di bidang atlet balap sedini mungkin.
“Mengingat Indonesia di tahun 2045 akan berusia satu abad dan direncanakan akan manjadi tahun generasi emas yang kompetitif dan siap bersaing, tentu kita harapkan di tahun itu ada anak Indonesia yang mempu naik podium di perhelatan MotoGP,” harapnya.






