TIDORE — Upaya menghidupkan kembali nilai-nilai lokal di tengah derasnya perubahan sosial dan budaya menjadi sorotan dalam kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya bertajuk “Revitalisasi Nilai Lokal: Meneguhkan Peraturan Kie Se Kolano di Kalangan Generasi Muda Tidore”, yang digelar di Tidore, Senin (21/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan dan gagasan mengenai pentingnya menjaga, memahami, serta mengaktualisasikan nilai-nilai lokal, khususnya Peraturan Kie Se Kolano, agar tetap relevan bagi kehidupan generasi muda Tidore.
Diseminasi menghadirkan tiga pemateri dengan latar belakang dan perspektif berbeda. Pemateri pertama, Abd. Wahab A. Rahim, selaku Koordinator sekaligus Ketua Peneliti, memaparkan proses kajian serta hasil penelitian mengenai Peraturan Kie Se Kolano dan relevansinya bagi generasi muda.
Abd. Wahab menegaskan, penelitian tersebut tidak sekadar bertujuan mendokumentasikan nilai-nilai lokal, tetapi juga mendorong agar nilai yang terkandung dalam Peraturan Kie Se Kolano dapat dipahami, diwariskan, dan diterapkan dalam kehidupan generasi muda.
“Penelitian ini tidak berhenti pada upaya mendokumentasikan Peraturan Kie Se Kolano, tetapi bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat kembali dipahami, diwariskan, dan diaktualisasikan oleh generasi muda Tidore dalam kehidupan mereka.”
Menurutnya, generasi muda memiliki posisi penting dalam keberlanjutan kebudayaan. Karena itu, penguatan pemahaman terhadap nilai lokal perlu dilakukan melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan mereka, baik melalui pendidikan, ruang-ruang kebudayaan maupun pemanfaatan media komunikasi yang dekat dengan generasi muda.
Pemateri kedua, Sukarno M. Adam, peneliti sekaligus Direktur Buku Suba Institute, mengangkat tema “Merawat Akar, Menatap Masa Depan: Anak Muda di Tengah Perubahan Sosial dan Budaya.”
Sukarno mengajak peserta melihat perubahan sosial dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Namun, perubahan tersebut menurutnya tidak harus membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan akar budaya dan identitas lokal.
“Menjadi generasi muda yang mampu menatap masa depan tidak berarti harus meninggalkan akar budaya. Justru dengan memahami akar dan identitasnya, anak muda memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan.”
Ia menekankan, peran generasi muda dalam merawat kebudayaan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Kebudayaan, kata dia, tidak cukup hanya dibicarakan dalam ruang-ruang formal, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari cara generasi muda memahami identitas serta lingkungan sosialnya.
Sementara itu, pemateri ketiga, Idris Sudin, Rektor Universitas Nuku, membawakan materi bertajuk “Budaya di Tengah Modernitas: Apakah Pendidikan Masih Menjadi Benteng Nilai?”
Idris menyoroti hubungan antara pendidikan, kebudayaan, dan pembentukan karakter generasi muda. Menurutnya, pendidikan memiliki posisi strategis dalam menjaga nilai-nilai budaya agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Pendidikan tidak hanya bertugas mencerdaskan manusia secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan nilai. Karena itu, pendidikan harus tetap menjadi ruang untuk memperkenalkan, menjaga, dan menghidupkan nilai-nilai budaya di tengah arus modernitas.”
Ia menambahkan, pendidikan dan kebudayaan perlu berjalan beriringan. Pengetahuan mengenai budaya lokal, termasuk nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Tidore, perlu mendapatkan ruang dalam proses pendidikan.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal budaya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga mampu memahami relevansinya bagi kehidupan masa kini dan masa depan.
Kegiatan tersebut dimoderatori Akib Bahar yang memandu pemaparan materi sekaligus diskusi antara pemateri dan peserta. Forum berlangsung interaktif dengan memberikan ruang kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta tanggapan mengenai posisi kebudayaan lokal di tengah perkembangan zaman.
Sekitar 76 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Peserta didominasi generasi muda, siswa-siswi tingkat SLTA serta mahasiswa dari Kota Tidore Kepulauan.
Kehadiran generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya memperluas pemahaman dan kesadaran mengenai nilai-nilai budaya lokal, sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam keberlanjutan kebudayaan Tidore.
Diseminasi hasil penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian kebudayaan tidak semata-mata mempertahankan warisan masa lalu. Lebih dari itu, pelestarian kebudayaan juga menyangkut bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami, diwariskan, dan memiliki makna bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Penelitian tersebut memperoleh dukungan pendanaan melalui Program Dana Indonesiana yang kini berubah nomenklatur menjadi Dana Indonesia Raya, sebuah program pendanaan kebudayaan hasil kerja sama Kementerian Kebudayaan dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Melalui dukungan pendanaan tersebut, penelitian diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai budaya lokal secara berkelanjutan.






