HALBAR – Pemerintah Provinsi Maluku Utara menandai dimulainya operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi melalui pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Program yang menjadi bagian dari agenda nasional pengentasan kemiskinan ekstrem ini resmi dibuka oleh Gubernur Maluku Utara yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Abdullah Assegaf, di Halmahera Barat, Kamis (30/7/2026).
Dalam sambutannya, Abdullah Assegaf menyebut kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi sebagai tonggak penting dalam upaya meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem di Maluku Utara.
“Insyaallah, hari ini menjadi tonggak sejarah bagi kita dalam upaya menghapus angka kemiskinan ekstrem di Malut. Tidak boleh ada lagi anak dari keluarga miskin yang tidak sekolah. Semuanya harus kita ubah nasibnya,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Abah Dullah itu menegaskan, Sekolah Rakyat merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang layak sekaligus membangun masa depan yang lebih baik.
Sementara itu, Penjabat Kepala Sekolah Rakyat, Nurhasni Ibrahim, menjelaskan bahwa pada tahun ajaran perdana ini sekolah menerima 240 peserta didik, terdiri atas 120 siswa jenjang SMP dan 120 siswa jenjang SMA.
“Hari ini anak-anakku, kalian semua adalah anak-anak pilihan yang dipersiapkan oleh negara untuk menjadi pemimpin masa yang akan datang,” kata Nurhasni saat menyapa para siswa.
Kehadiran Sekolah Rakyat juga mendapat sambutan hangat dari para orang tua. Salah satunya Rina Djafar (43), ibu dari Asmiranti Karim (13), yang mengaku bersyukur anaknya dapat melanjutkan pendidikan melalui program tersebut.
Rina, yang sehari-hari bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mengatakan program Sekolah Rakyat telah membuka harapan baru bagi masa depan anaknya.
“Kepada Bapak Presiden dan Ibu Gubernur, saya mengucapkan terima kasih atas adanya Sekolah Rakyat yang sudah mengubah harapan masa depan anak saya,” tuturnya.
Menurut Rina, perubahan sikap putrinya mulai terlihat sejak mengikuti pembinaan di Sekolah Rakyat. Asmiranti kini menjadi lebih disiplin, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Di SR itu kebersamaannya ada. Kalau di lingkungan masing-masing, ibaratnya bandelnya saja yang ada. Jadinya masuk SR berguna sekali; disiplin dan sikap berubah semua,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Abdullah Assegaf menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat Terintegrasi saat ini baru melayani jenjang SMP dan SMA. Pemerintah, lanjutnya, tengah menyiapkan pembangunan fasilitas untuk jenjang SD agar layanan pendidikan dapat diberikan secara lebih lengkap.
Ia juga berpesan kepada para guru dan tenaga kependidikan agar menjalankan amanah dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, mengingat para peserta didik berasal dari latar belakang sosial dan ekonomi yang beragam.
“Saya menitipkan amanah yang tidak ringan. Anak-anak yang hadir di hadapan kita membawa latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Mereka membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi mereka juga membutuhkan perhatian, kesabaran, dan teladan,” ujarnya.
Kepada para siswa, Abdullah mengajak mereka memanfaatkan kesempatan belajar sebaik-baiknya.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh, hormati guru, bangun persahabatan, dan jadilah pribadi yang memiliki kepedulian terhadap sesama,” pesannya.
Sebagai simbol dimulainya kegiatan MPLS dan matrikulasi, dilakukan pengalungan kartu tanda pengenal (ID card) kepada perwakilan siswa oleh Staf Ahli Gubernur.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan tiga siswi berprestasi dari Sekolah Rakyat SMA 28 Tidore Kepulauan yang menyampaikan pidato dalam tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab.
Sekolah Rakyat merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan miskin. Melalui program ini, pemerintah berharap para peserta didik dapat meningkatkan kualitas hidup, memperluas kesempatan masa depan, serta menjadi generasi yang mampu mengangkat kesejahteraan keluarganya sekaligus berkontribusi bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.






