KABATA, Perhelatan Syair dari Tidore

- Jurnalis

Senin, 13 Maret 2023 - 19:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dentuman yang beradu dalam resonansi suara menyajikan harmoni bunyi yang bertalu-talu, ada bunyi tumbukkan berirama dari lesung dan alu saat gabah ditumbuk untuk memisahkan kulit dengan isi agar menjadi beras, diikuti suara orang yang melantunkan semacam nyanyian tapi bukan nyanyian biasa, atau lebih  tepatnya berisikan syair yang dilantunkan dengan nada yang unik, masyarakat Tidore menyebutnya Kabata.

Kabata adalah tradisi yang mencerminkan tingginya kemampuan sastra lisan dalam bersyair dan juga budaya gotong royong dalam kehidupan masyarakat, kabata memakanai manusia sebagai kesatuan sosial yang memiliki keterikatan antar satu dengan yang lain, sehingga rasa memiliki dan membutuhkan terjewantahkan dari pola kehidupan sehri-hari, kabata adalah bagian daripada ekspresi sosial yang lahir dari kehidupan masyarakat Tidore.

Kabata biasanya dilakukan saat menumbuk gabah untuk melakukan hajatan tertentu, seperti jelang tradisi Salai Jin dan syukuran atas hasil panen yang melimpah tahun itu, atau hajatan lainnya yang diniatkan unttuk membuat kabata, tiga hal inilah yang menjadi dasar saat menyelenggarakan kegiatan Kabata. Di samping itu  acara nikahan atau acara besar lainnya yang akan diselenggarakan juga diikuti dengan kabata.

Kabata juga diselenggarakan dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti. Acara menumbuk beras menjadi tepung beras atau dalam bahasa Tidore disebut tutu galpung, acara menumbuk gabah menjadi padi atau tutu bira, dan kabata saat memarut kelapa secara berjamah untuk diolah menjadi minyak yang disebut ciru igo. Untuk yang pertama dan kedua biasanya diikuti dengan kegiatan salai jin atau syukuran atas hasil panen, sehinggaini juga bertujuan agar beras hasil menumbuk gabah dan tepung beras kemudian digunakan untuk konsumsi pada hajatan yang akan dilakukan nantinya.

Tutu bira dan tutu galpung biasanya dilakukan sebelum atau menjelang hajatan yang akan dilakukan, untuk keperluan pada saat hajatan nanti, dan ini dilakukan secara bersama-sama dalam lingkungan masyarakat tersebut,” tutur Halik Saraha seorang tokoh adat di Kelurahan Rum, Kota Tidore Kepulauan yang masih konsisten menjalankan tradisi nenek moyangnya itu.

Baca Juga :  Semarakkan Kebudayaan, Kesultanan Ternate Hadirkan Legu Tara No Ate

Kabata dalam prakteknya biasa dilakoni oleh 8 sampai 12 orang yang terbagi dalam  dua kubuh, dimana tiap kubuh berisikan 6 orang,  setiap kubu memiliki pemimpin yang bertugas menciptakan syair kabata yang dinamakan kabata ma saihu kemudian syair yang diciptakan itu disebarkan ke anggota lain atau yang disebut oti ma ao.

“Peserta kabata tidak terbatas pada 12 orang tapi juga bisa 14, 16, dan 18, akan tetapi lebih efektif dengan 12 orang,” ungkap Halik.

Kedua kubu ini kemudian saling berbalas syair sambil menumbuk gabah, syair kabata terdiri dari 2 bait yang muncul secara spontan tergantung tema apa yang dibahas malam itu, tema yang diusung dalam kabata bersifat dinamis. Pemilihan diksi dan penggunaan majas sering diramu dengan gaya filosofis lalu dimainkan dalam  perhelatan berbalas syair ini, berbeda dengan berbalas pantun karena pantun memerlukan rima, sedang kabata memerlukan kecerdasan bahasa mengekspresikan pesan yang pas.

“Untuk menjadi kabata ma saihu seseorang harus kreatif memilih kata-kata yang tepat, harus memhami bahasa Tidore yang baku dan tanggap terhadap tema yang sedang diangkat,” sambung Halik yang juga seorang kabata ma saihu ini.

Nadanya memang cenderung sama dengan cengkok dan sedikit meliuk-liuk menjadi irama khas dalam menambah indahnya syair, ada perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki pada irama,  irama yang dilagukan perempuan lebih lembut sedangkan oleh laki-laki lebih tegas, kabata tergolong dalam sastra lisan karena kabata tidak ditulis akan tetapi dilisankan sehingga tak ada kitab kabata.

Baca Juga :  Lomba Busana Nusantara Meriahkan Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Tidore

Banyak masyarakat yang percaya bahwa kemampuan dalam mengkreasikan kata-kata oleh kabata ma saihu juga terkait dengan faktor mistis, karena kemampuan yang diperoleh dari garis keturunan yang juga seorang kabata ma saihu atau disebut kabata ma mansia.

Selain kabata, sastra lisan seperti moro-moro dan dola bololo juga turut mewarnai khazana bahasa Tidore yang kaya akan sastra dan keindahan kata-kata serta syarat akan makna dan filosofis. Akan tetapi perlu disayangkan, dewasa ini kegiatan seperti kabata, moro moro dan dola bololo, mulai jarang terdengar eksistensinya, hal ini disebabkan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Kabata sangat erat kaitannya dengan aktivitas menumbuk beras atau mencukur kelapa yang oleh masyarakat diolah secara bersama-sama, sedangkan kini masyarakat sudah dimanjakan dengan hasil produksi pabrik.

“Kalau dulu semua kebutuhan makanan dipenuhi sendiri, seperti beras, jagung, singkong dan pisang. Kalau mau makan beras ya masyarakat membentuk kelompok kemudian kerja sama menanam sendiri di ladang, sehingga hasil panen itu dibuat syukuran dengan kabata dan salai jin, kalau sekarangkan tinggal beli beras di toko,” ujarnya.

Hal ini diperparah lagi dengan generasi muda  yang tak mengetahui kabata dan tradisi lisan lainnya, sehingga bukan tidak mungkin tradisi-tradisi ini suatu saat akan hilang, sebab tak banyak lagi yang mengetahui dan jarang mempraktekan itu.

“Ini menjadi tanggungjawab kita semua, seluruh kompenen baik masyarakat dan paling utamanya pemerintah khususnya bagian kebudayaan dan pariwisata agar lebih memperhatiakan masa depan budaya dan tradisi warisan leluhur,” harapnya. (*)

Berita Terkait

Lomba Busana Nusantara Meriahkan Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Tidore
Direktur Pembangunan Indonesia Timur Bappenas Kunjungi Tidore, Bahas Pembangunan Kawasan Ibu Kota Sofifi
TP-PKK Kepulauan Sula Sabet Juara Satu Tarian Kreasi di HKG PKK ke-53 Maluku Utara
Semarakkan Kebudayaan, Kesultanan Ternate Hadirkan Legu Tara No Ate
Syarat Makna, Tradisi Maulid ala Suku Bugis di Halmahera
Berita ini 895 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 Oktober 2025 - 09:38 WIB

Lomba Busana Nusantara Meriahkan Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Tidore

Jumat, 24 Oktober 2025 - 11:15 WIB

Direktur Pembangunan Indonesia Timur Bappenas Kunjungi Tidore, Bahas Pembangunan Kawasan Ibu Kota Sofifi

Rabu, 15 Oktober 2025 - 06:59 WIB

TP-PKK Kepulauan Sula Sabet Juara Satu Tarian Kreasi di HKG PKK ke-53 Maluku Utara

Sabtu, 30 Desember 2023 - 21:28 WIB

Semarakkan Kebudayaan, Kesultanan Ternate Hadirkan Legu Tara No Ate

Selasa, 3 Oktober 2023 - 01:55 WIB

Syarat Makna, Tradisi Maulid ala Suku Bugis di Halmahera

Senin, 13 Maret 2023 - 19:04 WIB

KABATA, Perhelatan Syair dari Tidore

Berita Terbaru

Peserta seleksi KIP Malut mengikuti tahapan Psikotest

Good News

Seleksi KIP Malut Masuki Tahapan Psikotes dan Dinamika Kelompok

Kamis, 11 Des 2025 - 22:24 WIB