SANANA-Dosen dan Mahasiswa Semester II, IV, dan VI Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kie Raha Ternate, telah melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Kepulauan Sula.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, yakni terhitung sejak tanggal, 11-13 Juli mengusung tema, “Pemanfaatan Potensi dan Kearifan Lokal dalam Mendukung Pembelajaran Multikultural”.
Ketua Prodi Pendidikan Biologi, Dr. Ermin ketika berbincang dengan marasai.id menyatakan, kegiatan PKM yang dilakukan bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian potensi dan kearifan lokal, serta pemahaman guru tentang implementasi kurikulum merdeka belajar. Kamis, (13/7/2023) Malam.
Dr. Ermin menyebut, adapun agenda dan sararan kegiatan, yakni Desa Wailau Kecamatan Sanana, dan Desa Fukweu Kecamatan Sanana Utara. Desa Wailau melakukan identifikasi tanaman obat pada hari Senin, 11 Juli 2023. Sementara Desa Fukweu, melakukan identifikasi tanaman magrove disertai dengan seminar yang bertema “Pemanfaatan Hutan Mangrove sebagai Pengembangan Ekowisata di Pulau Kucing” pada hari Selasa, 12 Juli 2023.
“Selanjutnya, kami kembali melakukan seminar serta penandatangan MoU dengan sekolah MA M’arif Nu Wailau, tepatnya hari Rabu, 13 Juli 2023,” ungkapnya.
Mewakili Ketua STKIP dan selaku Ketua Prodi, Dr. Ermin menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah dan masyarakat Kepulauan Sula pada umumnya, khususnya masyarakat Desa Wailau dan Desa Fukweu.
“Kami Program Studi Pendidikan Biologi mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah dan seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula atas perhatian serta kesedianya dalam menerima kami. Semoga kedepannya, kerja sama ini dapat berjalan dan terwujud sesuai dengan apa yang diharapkan,” pungkasnya mengakhiri.
Sementara, Pemuda Desa Fukweu, Tamsin Yoioga, menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang dilakukan. Menurutnya, sangat luar biasa, sebab Fukweu merupakan Desa yang pesisirnya dipenuhi mangrove.
“Untuk menjaga ekosistem mangrove, selama ini masyarakat jarang mendapat sosialisasi dari Pemerintah Daerah sehingga kehadiran mereka dalam seminar itu, masyarakat desa Fukweu sangat mengapresiasi,” ujarnya.
Akademisi STAI Babussalam Sula itu, bahkan meminta untuk kedepannya mahasiswa pada saat KKN, diturunkan di Desa Fukweu.
“Saya minta untuk ke depannya, mahasiswa STIKIP ketika KKN nanti diturunkan di Desa Fukweu, supaya ada kerja sama yang baik dalam melakukan sosialisasi, serta jaga hutan mangrove di Desa Fukweu. Apalagi, mereka bersedia untuk bekerja sama dengan Pemdes untuk melakukan pelatihan ke depan kepada ibu-ibu terkait buah mangrove yang bisa dijadikan bahan konsumen masyarakat sekaligus sebagai ikon wisata pulau kucing ke depan,” pungkasnya.
Sekedar informasi, selain dari Desa Fukweu dan Desa Wailau, mahasiswa juga melakukan bakti sosial di Desa Fagudu, Kecamatan Sanana.
Reporter: Am Teapon






