Oleh: Hamdan Hasan., M.Ag*
Sejarah singkat gubernur Abraha
Ia berasal dari Habasyah (Ethiopia), seorang jenderal yang menjadi gubernur Yaman di bawah kekuasaan Raja Najasyi (Negus) dari Kerajaan Aksum.
Setelah menaklukkan Yaman, pasukan Abraha mengusir penguasa Yahudi saat itu (Dzu Nuwas) yang sebelumnya membantai kaum Abraha di Najran.
أَلَمْ تَرَ
Makna harfiah: “Tidakkah engkau melihat?”
Ini bukan sekadar pertanyaan retoris, tetapi pengingat sejarah politik — bahwa kejadian besar seperti kehancuran pasukan Abrahah adalah pelajaran penting dalam geopolitik dan moralitas kekuasaan.
Politik Islam mengharuskan pemimpin mengambil pelajaran dari sejarah kekuasaan tirani.
كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ
Bagaimana Tuhanmu bertindak
Tindakan Allah adalah intervensi langsung terhadap kezaliman politik. Pemimpin dan negara yang menyimpang dari keadilan dan menggunakan kekuatan secara zhalim pasti akan mendapat konsekuensi sejarah, sosial, bahkan spiritual.
بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
“Terhadap pasukan bergajah“
Pasukan bergajah adalah simbol militerisme, kolonialisme, dan politik ekspansionis (imperialis).
Dalam konteks modern: negara atau kekuatan besar yang menyerang negara kecil dengan motif politik/agama/ekonomi tanpa keadilan, adalah Abrahah modern.
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ
“Bukankah Dia menjadikan tipu daya mereka…”
Kata كيد adalah strategi politik, konspirasi, perencanaan jangka panjang (kadang licik).
Makna sekarangnya adalah propaganda, infiltrasi ideologi, politik devide et impera (pecah belah), dll.
Allah membongkar politik tipu daya kekuasaan, tidak peduli secerdik apapun itu.
فِي تَضْلِيلٍ
“Dalam kesesatan / kesia-siaan”
Allah menunjukkan bahwa politik zalim tidak akan langgeng. Sehebat apapun rekayasa politik, jika mengandung kezaliman, akan menjadi sia-sia.
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ
Dan Dia mengirim kepada mereka
Tindakan Allah terhadap ketidakadilan bisa datang dari arah yang tidak disangka, bisa melalui rakyat kecil, kejadian alam, peristiwa sosial, bahkan krisis internal.
طَيْرًا أَبَابِيلَ
Burung-burung berbondong-bondong
Simbol bahwa perlawanan terhadap kezaliman politik tidak selalu butuh kekuatan besar, cukup dengan kerja kolektif yang tepat (seperti burung ababil).
Kekuatan rakyat bisa menggulingkan rezim zalim, asal bersatu dan diarahkan secara moral.
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
Yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar
Simbol hukuman keras terhadap penguasa lalim, bisa dalam bentuk sanksi moral, ekonomi, politik, atau revolusi.
Politik Islam tidak membiarkan penguasa zhalim bebas berbuat — ada konsekuensi atas kejahatan kekuasaan.
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun dimakan (ulat)
Ini gambaran kehinaan total kekuasaan yang dulu disegani. Kekuasaan zalim bisa runtuh jadi bangkai sejarah — tidak hanya dikalahkan, tapi dianggap hina dan dilupakan.
Dalam politik kontemporer, ini pengingat agar penguasa tidak sombong, karena legitimasi tidak kekal jika tak adil.
Kesimpulan Politik Per Kata.
أَلَمْ تَرَ
Refleksi politik: belajar dari sejarah.
كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ
Allah berperan dalam sejarah politik.
أَصْحَابِ الْفِيلِ
Simbol militerisme & politik ekspansi.
كَيْدَهُمْ
Strategi politik zhalim.
فِي تَضْلِيلٍ
Semua strategi jahat akan gagal.
طَيْرًا أَبَابِيلَ
Kekuatan kolektif rakyat atau makhluk kecil bisa melawan kezaliman.
حِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
Hukuman bagi kejahatan politik.
كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
Akhir yang hina dari kekuasaan tiran.
Kesimpulan
Siapapun yang menjadi gubernur atau pemimpin secara umum dan punya konspirasi tidak baik untuk masyarakat, maka akan memiliki nasib seperti gubernur Abraha.
*Hamdan Hasan adalah Imam Besar Masjid Shafful Khairaat Sofifi, pengurus MUI, serta Mahasiswa Doktoral tafsir al-Quran di Malaysia.






