LABUHA – Di balik senyum ramahnya saat mengajar siswa jurusan kelistrikan di SMK Negeri 1 Halmahera Selatan, Ahmad Ibrahim menyimpan kisah getir yang tak banyak orang tahu.
Sejak tahun 2010, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Namun, impiannya untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) selalu kandas di ujung jalan.
Selama 15 tahun, Ahmad membimbing ratusan siswa agar terampil di bidang kelistrikan. Gajinya sebagai guru honorer jauh dari kata cukup, tetapi semangatnya tak pernah surut. Harapannya sederhana: bisa diangkat menjadi ASN agar hidup keluarganya lebih layak.
Namun, harapan itu dua kali pupus. Pada 2022, ia sempat dinyatakan lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Senyum lega sempat ia ukir, keluarganya pun ikut bersyukur. Sayangnya, kabar gembira itu hanya bertahan sekejap.
Surat dari BKN Manado menyatakan dirinya tidak memenuhi syarat (TMS) karena masih berijazah D3, sementara ia sedang menempuh kuliah lanjutan S1 di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.
“Waktu itu saya kecewa sekali. Sudah lulus, sudah pemberkasan, tapi keluar surat TMS. Saya sadar, belum sarjana memang jadi penghalang,” kenang Ahmad dengan mata berkaca.
Tak ingin menyerah, Ahmad menuntaskan studinya. Agustus 2024 ia resmi yudisium, menyandang gelar sarjana. Dengan penuh harap, ia kembali mendaftar seleksi PPPK tahap I. Lagi-lagi, kabar kelulusan sempat ia terima. Namun, mimpi itu runtuh untuk kedua kalinya.
“BKN Manado bilang saya belum punya ijazah saat mendaftar pada bulan Oktober. Padahal saya sudah lampirkan surat keterangan lulus. Di ijazah pun jelas tertulis saya dinyatakan lulus pada 3 Agustus 2024, meski wisudanya baru Desember,” tutur Ahmad lirih.
Kecewa dan bingung, Ahmad berharap Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui BKD bisa membantunya memperjuangkan nasib. Namun, ia kembali mendapat surat TMS.
Di ujung telpon suaranya bergetar penuh harap, Ahmad bercerita tentang harapannya. “Saya sudah 15 tahun mengabdi. Dengan kelulusan itu, saya ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Besar sekali harapan saya agar bisa diluluskan,” ucapnya, menahan perasaan.
Kisah Ahmad bukan hanya tentang gagal menjadi ASN, melainkan tentang perjuangan seorang guru honorer yang setia mengabdi meski sering tersisih oleh aturan yang kaku.






