Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sedang menjadi sorotan di Indonesia. Salah satunya karena kemunculan tools berbasis AI, yaitu Chat Generative Pre-trained Transformer (ChatGPT).
ChatGPT adalah artificial intelligence berbasis teks yang dirilis oleh OpenAI pada November 2022.
OpenAI menjelaskan, ChatGPT berinteraksi seperti percakapan biasa. Format dialog yang digunakan mengizinkan ChatGPT menjawab pertanyaan, mengakui kesalahan dan meminta maaf, membenarkan ide yang dianggap tidak tepat, dan menolak permintaan yang tidak pantas.
Dilansir dari Forbes, ChatGPT dapat digunakan untuk membantu menciptakan konten marketing bagi bisnis dan sebagai automated customer service yang lebih interaktif serta dapat memberikan jawaban lebih baik dari chatbot biasa.
ChatGPT pun bisa memberikan jawaban panjang yang meskipun cukup sederhana namun bisa memudahkan untuk membuat website.
Membuka Peluang Kerjasama Global
Namun memang terbatas untuk penggunaan tertentu, seperti perusahaan minyak dan gas, serta penerbangan dan logistik. Pasalnya, teknologi pada zaman tersebut masih amat mahal harganya.
“Kreativitas dari para pelaku usaha Indonesia dalam mengadopsi perkembangan teknologi saat ini sudah sesuai dengan kebutuhan zaman dan harapannya masyarakat dunia dapat mengetahui berbagai perkembangan teknologi yang telah diadopsi oleh pelaku usaha Indonesia, sehingga dapat membuka peluang kerjasama di masa depan,” ujarnya.
Tantangan Pengembangan AI di Indonesia
Artificial intelligence adalah bidang ilmu teknologi yang pengembangannya membutuhkan sumber daya yang besar. Tidak hanya dari segi biaya, namun juga tenaga ahli manusia, dan tingkat kerumitan teknologi di baliknya.
Kecemasan terkait pengembangan kecerdasan buatan juga muncul seiring dengan semakin berkembangnya teknologi AI. Terutama karena artificial intelligence terbukti dapat meniru cara berpikir manusia dan mengerjakan banyak pekerjaan manusia. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pro kontra mengenai kecerdasan buatan.
Dilansir dari blog Niagahoster, meski kecerdasan buatan sudah semakin marak digunakan, namun teknologi AI tidak akan sepenuhnya bisa menggantikan peran seseorang dalam kehidupan sehari-hari.






