TERNATE – Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara resmi membuka kegiatan Diseminasi Produk Penerjemahan, yang menjadi bagian dari program nasional pengembangan literasi. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium lantai 2 BPK Perwakilan Provinsi Maluku Utara, Jumat (28/11/2025).
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, Nurul Istiqamallah, S.H., M.H., yang mewakili Kepala Balai Bahasa, Nukman, S.S., M.Hum. Kegiatan tersebut dihadiri peserta dari unsur pemangku kepentingan, guru sekolah dasar, dan penggiat komunitas literasi.
Dalam sambutannya, Nurul menjelaskan bahwa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen, dalam beberapa tahun terakhir telah menjalankan program penerjemahan cerita anak sebagai bagian dari dukungan terhadap Gerakan Literasi Nasional. Program ini berfokus pada penyediaan bahan bacaan yang berkualitas bagi anak-anak Indonesia.
“Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan produk buku terjemahan cerita anak Maluku Utara serta mendapatkan umpan balik dari peserta kegiatan,” ungkapnya.
Sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara berkomitmen penuh terhadap pelaksanaan program ini. Sejak 2021 hingga 2025, sebanyak 111 produk penerjemahan telah dihasilkan, yang disajikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Khusus pada 2023 diterbitkan dalam tiga bahasa, termasuk bahasa asing.
“Kita patut bersyukur dapat berkumpul untuk membahas upaya penting dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan bahasa dan budaya di Provinsi Maluku Utara,” ujar Nurul.
Ia menambahkan, produk-produk penerjemahan tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga menjadi jembatan antar budaya dan penguat identitas kebangsaan. Melalui cerita anak yang tergabung dalam program Cemara (Cerita Anak Maluku Utara), Balai Bahasa berharap akses pengetahuan semakin luas bagi masyarakat, khususnya anak-anak di daerah.
“Penerjemahan cerita anak bukan hanya tentang alih bahasa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal. Dengan dua bahasa, anak-anak dapat merasakan keindahan cerita, baik dalam Bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, sehingga rasa bangga terhadap bahasa sendiri semakin tumbuh,” jelasnya.
Mengakhiri sambutan, Nurul mengajak seluruh peserta untuk mendukung pemanfaatan produk penerjemahan sebagai bahan bacaan bermutu.
“Mari kita gunakan produk penerjemahan ini untuk memperkaya imajinasi anak-anak, menumbuhkan kecintaan terhadap literasi, dan menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai warisan budaya,” tutupnya.






