SANANA – Masyarakat Desa Bega, Kecamatan Sulabesi Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, kembali memperingati Hari Tasyrik yang dilaksanakan setiap tanggal 11 hingga 13 Dzulhijjah setelah Hari Raya Iduladha.
Tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan dan menjaga warisan leluhur.
Perayaan Tasyrik tahun ini mengusung tema “Merawat Warisan Tradisi di Hari Qurban: Saatnya Berbenah Iman, Akhlak, dan Ukhuwah Basyariah.” Tema tersebut mencerminkan semangat masyarakat Bega dalam mempertahankan nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepala Desa Bega, Darmin Fatmona, mengatakan bahwa tradisi Tasyrik memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perjalanan masyarakat setempat.
“Bagi masyarakat Desa Bega, ada satu kisah yang selalu dikenang. Pada tahun 1956, di sebuah gubuk sederhana, tiga tokoh masyarakat Bega berkumpul dan melahirkan gagasan yang kemudian menjadi cikal bakal perayaan Tasyrik di desa ini,” ujar Darmin kepada marasai.id, Sabtu (30/5/2026).

Tiga tokoh yang dimaksud adalah almarhum Abdullah Umakaapa, almarhum Daeng Fatmona, dan almarhum Abdul Basir Umakaapa. Dari hasil pertemuan tersebut, disepakati bahwa Abdullah Umakaapa berangkat ke Ambon untuk meminta petunjuk dan arahan kepada gurunya, Abubakar Bin Yahya, terkait pelaksanaan perayaan Tasyrik.
Sepulang dari Ambon, Abdullah Umakaapa kembali bertemu dengan dua tokoh lainnya untuk membahas hasil konsultasi tersebut. Dari musyawarah itu lahir kesepakatan membentuk Dewan Tasyrik sebagai wadah resmi penyelenggaraan kegiatan.
Untuk menjalankan tugas tersebut, tujuh generasi muda yang mewakili berbagai soa atau marga di Desa Bega saat itu dipercaya menjadi pengurus pertama Dewan Tasyrik, yakni Abdullah Umakaapa sebagai Ketua, Yusuf Fatmona sebagai Sekretaris, Mohammad Yamin Fatmona sebagai Bendahara I, Hamid Waibot sebagai Bendahara II, Araf Yakseb sebagai Mata Oga Wek A, Mahmud Pauwah sebagai Mata Oga Wek B, dan Nai Fokaaya sebagai Mata Oga Wek C.
Darmin menjelaskan, tradisi yang mulai dilaksanakan secara resmi pada tahun 1958 itu kini telah memasuki usia ke-68 tahun dan terus dipertahankan oleh masyarakat Desa Bega.
“Perayaan Tasyrik yang kita laksanakan hari ini merupakan Tasyrik ke-68 sejak pertama kali digelar pada tahun 1958,” katanya.
Menurutnya, sejak awal tradisi ini dibangun di atas lima tujuan utama yang menjadi pedoman masyarakat Bega hingga saat ini. Pertama, menghimpun masyarakat untuk mendengarkan nasihat agama. Kedua, mempererat hubungan kekeluargaan melalui kegiatan Maksaira, Manatol, dan Magugasa.
Ketiga, membahas persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Keempat, membicarakan perkembangan pendidikan generasi Bega. Kelima, membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah haji masyarakat setempat.
“Karena itu, Tasyrik bukan sekadar acara seremonial. Lima tujuan dasar inilah yang menjadi pedoman sekaligus barometer masyarakat Desa Bega dalam menjaga dan melaksanakan tradisi ini dari masa ke masa,” tutup Darmin.







