SOFIFI — Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Universitas Bumi Hijrah (Unibrah) memperkuat langkah pencegahan kekerasan di lingkungan kampus dengan melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).
Langkah tersebut dilakukan melalui pertemuan rutin pada awal semester yang menjadi ruang koordinasi antara Satgas PPK, BEM, dan HMJ untuk memastikan seluruh aktivitas kemahasiswaan berjalan dalam suasana yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari berbagai bentuk kekerasan.
Ketua Satgas PPK Unibrah, Mansyur Djamal, mengatakan keterlibatan organisasi mahasiswa menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bersama mengenai pencegahan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
Menurutnya, BEM dan HMJ memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan mahasiswa dalam berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik.
“Pertemuan ini merupakan bagian dari koordinasi rutin di awal semester. Kita ingin memastikan seluruh kegiatan mahasiswa, baik yang dilaksanakan BEM maupun HMJ, dapat berlangsung dalam lingkungan yang aman, nyaman dan inklusif,” ujar Mansyur.
Ia menegaskan, setiap program atau kegiatan mahasiswa yang melibatkan peserta dari berbagai jurusan harus memperhatikan prinsip pencegahan kekerasan. Hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan kekerasan fisik, tetapi juga bentuk kekerasan nonfisik yang dapat terjadi dalam interaksi antarmahasiswa.
“Setiap kegiatan harus benar-benar memperhatikan aspek pencegahan kekerasan. Jangan sampai ada kegiatan yang kemudian melahirkan tindakan kekerasan, baik secara fisik maupun nonfisik. Termasuk perundungan, penghinaan, intimidasi, maupun tindakan lain yang dapat membuat mahasiswa merasa tidak aman,” jelasnya.
Mansyur mengatakan, upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan oleh Satgas PPK. Diperlukan keterlibatan seluruh unsur kampus, termasuk organisasi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa itu sendiri.
Karena itu, BEM dan HMJ diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan kemahasiswaan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan membangun budaya kampus yang saling menghormati.
“Kita ingin pencegahan ini menjadi kesadaran bersama. BEM dan HMJ harus menjadi mitra Satgas PPK dalam menciptakan ruang belajar dan ruang berorganisasi yang sehat. Semua mahasiswa harus merasa dihargai, dilindungi dan memiliki ruang yang sama untuk berkembang,” katanya.
Ia menambahkan, koordinasi secara rutin akan terus dilakukan sebagai langkah evaluasi sekaligus memastikan komitmen pencegahan kekerasan dapat diterapkan dalam setiap kegiatan mahasiswa.
Dengan penguatan kolaborasi tersebut, Unibrah mendorong terciptanya budaya kampus yang tidak mentoleransi kekerasan dalam bentuk apa pun serta menjadikan keamanan, kenyamanan dan inklusivitas sebagai bagian penting dari kehidupan akademik dan kemahasiswaan.






